Jumat, 01 Juni 2012

MANAJEMEN PENINGKATAN SUHU TUBUH

Pendahuluan

Salah satu keluhan yang sering terjadi pada orang yang sakit adalah badan teraba panas. Bila badan teraba panas, dapat dipastikan bahwa suhu tubuhnya meningkat di atas normal. Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5 – 37,5 °C tergantung dari usia seseorang. Semakin dewasa umur seseorang semakin rendah suhu normal tubuhnya.

Pada beberapa kondisi, peningkatan suhu tubuh menyebabkan kecemasan. Pada anak, peningkatan suhu tubuh seringkali menyebabkan kecemasan orang tua. Mereka menganggap peningkatan suhu tubuh sebagai penyakit serius, terlebih lagi bila panas badan yang terlalu tinggi disertai kejang-kejang.

Klasifikasi Suhu Tubuh Manusia

Secara umum suhu tubuh manusia berkisar 36,5 – 37,5 °C. Gangguan suhu tubuh dapat diklasifikasikan menjadi hipotermia (<35 °C), demam (>37.5–38.3 °C), hipetermia (>37.5–38.3 °C), dan hiperpireksia (>40 –41,5 °C). Ditilik dari tingginya suhu, pada demam dan hipertermia memiliki nilai rentang suhu yang sama yaitu berkisar antara > 37.5-38.3 °C. Yang membedakan antara keduanya adalah mekanisme terjadinya. Pada demam, peningkatan suhu tubuh disebabkan oleh peningkatan titik pengaturan suhu (set point) di hipotalamus. Sementara, pada hipertermia titik pengaturan suhu dalam batas normal.


Demam memiliki pola tertentu yang mengindikasikan suatu penyakit. Demam terus-menerus (Continuous fever) memiliki pola suhu tetap di atas normal sepanjang hari dan tidak terjadi fluktuasi lebih dari 1 °C dalam 24 jam. Demam ini sering terjadi pada penyakit pneumonia lobaris, infeksi saluran kemih, atau brucellosis. Apabila fluktuasi suhu lebih dari 1 °C dalam 24 jam disebut dengan demam remitten. Demam intermitten mempunyai pola peningkatan suhu hanya terjadi pada satu periode tertentu dan siklus berikutnya kembali normal. Contohnya demam pada malaria atau septikemia.

Bagimana Terjadinya Peningkatan suhu Tubuh

Pada demam, peningkatan suhu tubuh dipicu oleh zat pirogen yang menyebabkan pelepasan prostaglandin E2 (PGE2) yang pada gilirannya memicu respon balik sistemik keseluruh tubuh menyebabkan efek terciptanya panas guna menyesuaikan dengan tingkat suhu yang baru. Jadi pusat pengatur suhu yang letaknya di hipotalamus sesungguhnya seperti termostat. Jika titik pengatur dinaikkan, maka tubuh menaikkan suhu dengan cara memproduksi panas dan menahannya di dalam tubuh. Panas ditahan dalam tubuh dengan cara vasokonstriksi pembuluh darah. Jika dengan cara di atas suhu darah di dalam otak tidak cukup untuk menyesuaikan dengan pengaturan baru yang ada di hipotalamus, maka tubuh akan menggigil dalam rangka untuk memproduksi panas lebih banyak lagi. Ketika demam berhenti dan pusat pengaturan suhu di hipotalamus disetel lebih rendah, maka berlaku proses sebaliknya dimana pembuluh darah akan bervasodilatasi sehingga banyak dikeluarkan keringat. Panas badan selanjutnya dilepas bersama dengan penguapan keringat.

Pada hipertermia, pusat pengaturan suhu dalam batas normal yang berarti bahwa tidak ada upaya hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Akan tetapi, tubuh kelebihan panas akibat dari retensi dan produksi panas yang tidak diinginkan.

Penyebab Peningkatan Suhu Tubuh

Penyebab dari suhu tubuh meningkat tergantung dari jenisnya. Pada demam, penyebab yang paling sering adalah infeksi bakteri atau virus seperti influenza, pilek, HIV, malaria, gastroenteritis; berbagai radang kulit seperti borok, jerawat, abses; penyakit-penyakit imunologi seperti lupus eritematosus, sarkoidosis; kerusakan jaringan yang dapat terjadi pada pembedahan, hemolisis, perdarahan serebral; obat-obatan baik secara langsung seperti obat-obat progesteron, kemoterapi atau sebagai efek samping obat seperti obat antibiotik, atau akibat penghentian obat seperti pada orang yang ketagihan heroin; kanker seperti penyakit hodgkin; penyakit metabolik seperti gout, forforia; serta proses tromboemboli seperti emboli paru dan trombosis vena dalam (DVT).


Sementara itu, pada hipertermia peningkatan suhu tubuh disebabkan karena paparan panas lingkungan (heat stroke), obat-obatan, dan pemakaian alat proteksi diri. Heat stroke dapat terjadi akibat dari regangan fisik pada hari yang sangat panas. Minum terlalu sedikit, minum alkohol dan kondisi AC yang kurang juga dapat menyebabkan Heat stroke. Penyebab Heat stroke lainnya adalah medikasi, yaitu obat-obat yang dapat mengurangi vasodilatasi, keringat dan mekanisme-mekanisme kehilangan panas lainnya seperti obat-obat antikolinergi, antihistamin dan deuretik.


Hipertermia juga dapat disebabkan karena obat-obat yang menyebabkan produksi panas internal berlebihan. Berbagai macam medikasi psikotropik seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), dan tricyclic antidepressants. Berbagai obat terlarang seperti amfetamin, kokain, PCP, LSD dan MDMA dapat menyebabkan hipertermia sebagai efek samping. Obat-obat anestesi seperti halotane atau reaksi terhadap obat paralitik (succinylcholine) dapat menyebabkan hipertermia malignan yaitu satu hipertermia yang jarang terjadi akibat kondisi genetik tapi dapat berakibat fatal.


Pemakaian alat proteksi diri pada pekerja industri, personel militer dan petugas pertolongan pertama juga dapat menyebabkan hipertermi. Pada kondisi tersebut, hipertermi terjadi karena penguapan yang terganggu serta meningkatnya tahanan panas di dalam alat proteksi diri. Pengaturan termoregulasi yang normal (berkeringat) pada saat mereka menjalankan aktivitasnya menjadi tidak efektif karena pada waktu yang sama mereka terus melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini diperparah dengan peningkatan lama waktu bekerja, peningkatan suhu dan kadar kelembaban lingkungan serta paparan langsung dengan sinar matahari.


Penyebab lain hipertermi tetapi sangat jarang adalah tirotoksikosis, dan adanya tumor kelenjar adrenal yang disebut pheochromocytoma, keduanya dapat menyebabkan produksi panas. Kerusakan sistem saraf pusat seperti pendarahan otak, status epileptikus dan berbagai kerusakan hiotalamus juga dapat menyebabkan hipertermi.

Dampak Peningkatan Suhu Tubuh

Akibat suhu tubuh meningkat, seseorang akan mengalami kelesuhan (lethargy), mengantuk, dan depresi. Bisa juga timbul kebingungan, rasa bermusuhan atau gejala intoksikasi. Apabila terjadi dehidrasi dapat menyebabkan mual, muntah, pusing kepala dan tekanan darah menurun. Hal ini berakibat pusing atau bahkan pingsan. Dapat juga ditemukan takikardia dan takipneu. Pada anak-anak sering mengalami kejang. Pada akhirnya organ tubuh dapat gagal sehingga berakibat tidak sadar bahkan kematian

Manfaat

Terlepas dari dampak yang ditimbulkan, peningkatan suhu tubuh sesungguhnya bermanfaat bagi pertahanan tubuh manusia terutama bila diketahui bahwa penyebab dari peningkatan suhu tubuh adalah infeksi. Meskipun masih kontroversial, ada keyakinan bahwa suhu dapat mempercepat reaksi immunologis sehingga akan menghambat beberapa kuman patogen. Disamping itu, suhu yang tinggi juga menyebabkan lingkungan yang tidak kondusif bagi kuman. Sel darah putih juga berproliferasi lebih cepat sehingga membantu melawan kuman-kuman patogen dan mikroba yang masuk ke dalam tubuh.

Manajemen

Peningkatan suhu tubuh karena demam, tidak harus ditangani. Demam sebenarnya merupakan sinyal penting yang mengindikasikan bahwa di dalam tubuh ada masalah, apalagi bila disebabkan karena infeksi. Namun bila suhu terus meningkat (di atas 42 °C), kerusakan sel dapat terjadi. Pada kondisi demikian, suhu tubuh harus diturunkan untuk mencegah terjadinya penurunan kesadaran atau kematian.


Untuk mencegah terjadinya kondisi yang membahayakan akibat suhu tubuh yang tinggi perlu diperhatikan faktor penyebabnya. Bila penyebabnya infeksi, penggunaan antibiotik akan sangat efektif untuk menurunkan suhu tubuh. Bila penyebabnya obat, pemberian harus dihentikan dan perlu diberikan obat lain yang memiliki aksi berlawanan.


Disamping mengatasi faktor penyebab, prinsip-prinsip pelepasan kelebihan panas tubuh melalui mekanisme konduksi, konveksi, radiasi, atau evaporasi perlu dilakukan. Pada lingkungan yang panas, tindakan pendinginan pasif seperti istirahat ditempat yang teduh dan sejuk dapat mengurangi panas tubuh. Demikain juga penggunaan AC dapat sangat membantu. Tindakan pendinginan aktif seperti melakukan kompres dingin di beberapa bagian tubuh seperti dahi, leher, dan ketiak juga dapat memperbaiki suhu tubuh ke rentang normal. Banyak minum dan menghidupkan kipas angin atau AC kering dapat mengefektifkan evaporasi keringat. Berendam air hangat (tepid water) atau air dingin (cool water) dapat membuang panas dengan segera. Tapi jangan menggunakan air yang sangat dingin (cold water) karena justeru menyebabkan vasokonstriksi di kulit yang justeru menghambat pembuangan panas.

Medikasi

Untuk medikasi, antipiretik ibuprofen cukup efektif dalam mengurangi demam pada anak-anak. Obat ini lebih efektif dibanding dengan parasetamol (asetaminofen) maupun aspirin. Oleh karena itu kedua obat ini tidak dianjurkan sebagai antipiretik pada anak-anak atau para remaja, terlebih keduanya berhubungan dengan Reye’s Syndroma yang dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati, dan bahkan kematian

dikutip dari:  http://www.poltekkes-malang.ac.id/artikel-212-manajemen-peningkatan-suhu-tubuh.html
Baca Selengkapnya...

Senin, 27 Februari 2012

Pengumuman: Ralat Pembayaran Pelatihan BLS/BTLS

Bagi semua mahasiswa Poltekkes Malang Jurusan Keperawatan (Prodi Malang, Lawang, & Blitar) bersama ini kami sampaikan informasi dari Diklit RSSA Malang bahwa untuk pembayaran pelatihan BLS/BTLS dilakukan melalui perwakilan perangkatan (Tidak secara individu). Pembayaran dilakukan secara tunai dimana sebelumnya melapor terlebih dahulu ke Diklit (Bu Wahyu).


Sekian pengumuman ini meralat pengumuman sebelumnya.


Malang, 27 Februari 2012

Ttd

Roni Yuliwar, S.Kep., Ns, M.Kep
Baca Selengkapnya...

Jumat, 24 Februari 2012

Pengumuman Pembayaran BCLS/BTCLS

Sehubungan dengan pelatihan BCLS/BTCLS di RSA Malang, bersama ini kami sampaikan bagi semua mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Malang bahwa:

- Pembayaran dilakukan secara individu ke Diklit RSSA (Bu Wahyu)
- Setelah mendapat tanda bukti harap melapor ke UGD (Ibu Kuwandari/Bpk. Susilo) untuk mengambil buku BCLS/BTCLS

Demikian pengumuman ini, atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih

Koordinator PK Gadar
Jurusan Keperawatan
Poltekkes Malang

Ttd

Roni Yuliwar, S.kep., Ns, M.Ked
Baca Selengkapnya...

Kamis, 23 Februari 2012

Jadwal Bimbingan PK Gadar Prodi Malang



Klik jadwal untuk memperbesar atau kalau tidak bisa klik mouse kanan kemudian klik open link in new tab


Baca Selengkapnya...

Jadwal Bimbingan PK Gadar Prodi Lawang


Klik Gambar untuk memperbesar



Baca Selengkapnya...

Jadwal Bimbingan PK KMB Prodi Blitar


Klik Gambar untuk memperbesar

Baca Selengkapnya...

Jumat, 25 Maret 2011

Asuhan Keperawatan Osteoporosis


Osteoporosis adalah penyakit metabolik yang berhubungan dengan usia, dimana terjadi demineralisasi tulang akibat dari penurunan densitas yang dapat berakibat terjadinya fraktur. Daerah yang sering terkena meliputi pergelangan tangan, daerah paha, dan tulang belakang.

Penyebab pasti dari osteoporosis tidak diketahui. Namun sejumlah faktor resiko telah diidentifikasi, antara lain wanita postmenopause, penuaaan, faktor makanan (diet kurang kalsium dan vitamin D,Defisiensi protein, komsumsi rokok dan alkohol serta faktor herediter.

Osteoporosis diklasifikasi menjadi Osteoporosis Primer dan sekunder. Osteoporosis Primer paling sering dan tidak berhubungan dengan kondisi patologi yang mendasari sedangkan Osteoporosis Sekunder terjadi akibat dari kondisi medik seperti hipertiroidisme, terapi kortikosteroid jangka panjang. Osteoporosis primer masih dibagi lagi menjadi Tipe 1 (post menopause) dimana tipe ini terjadi pada wanita usia 55 – 65 tahun, dan sering mengakibatkan fraktur vertebra atau pergelangan tangan. Tipe ke-2 (senile), terjadi pada orang di atas usia 65 tahun, dan sering mengakibatkan fraktur vertebra dan femur.

Patofisiologi terjadinya osteoporosis karena proses degeneratif (penuaan/post menopause) terjadi disebabkan karena pada usia lanjut terjadi penurunan kalsitonin, hormon estrogen dan hormon paratiroid. Penurunan kalsitonin menyebabkan hambatan resorpsi tulang menurun sehingga rangsang pembentukan tulang juga menurun. penurunan hormon estrogen mengakibatkan pemecahan tulang meningkat. Penurunan hormon paratiroid mengakibatkan resorpsi tulang meningkat. Ketiga hal di atas menyebabkan masa tulang menjadi turun.

Proses Keperawatan pada klein osteoporosis

Pengkajian

Riwayat
Perawat perlu mengkaji usia, jenis kelamin dan ras, karena gangguan sering terjadi pada usia pertengahan dan usia lanjut, kaukasia, wanita menopause, tipe tubuh, karena tubuh kurus lebih rentan. Tanyakan juga paparan sinar matahari, konsumsi rokok, alkohol dan kafein.
Dapatkan juga riwayat diet terutama untuk mendapatkan keterangan intake Kalsium dan vitamin D. Tanyakan juga aktivitas rutin klien.
Kaji kondisi kesehatan saat ini yang mungkin menyebabkan perkembangan osteoporosis, kalau tidak mungkin dapatkan catatan medis sebelumnya. Perlu ditanyakan pengobatan sebelumnya dan saat ini untuk mengetahui apakah klien dalam penanganan osteoporosis.
Akhirnya dapatkan riwayat keluarga. Karena klien sering masuk dengan fraktur, dapatkan informasi riwayat jatuh.

Pengkajian Fisik / Manifestasi Klinik

Lakukan pengkajian awal sistem muskuloskeletal dengan inspeksi dan palpasi kolumna vertebra biasanya di dapatkan “dowager’s hump” atau kifosis pada tulang belakang, klien mengaku lebih pendek 5 – 7 cm selama kurun 20 tahun. Menyertai deformitas tulang adalah adanya keluhan nyeri punggung yang sering terjadi setelah mengangkat atau membungkuk. Nyeri mungkin dirasa tajam dan akut pada awalnya dan bertambah buruk saat beraktivitas serta hilang jika beristirahat. Palpasi pada vertebra thorakal bawah dan lumbar biasanya nyeri.
Nyeri punggung yang disertai restriksi pergerakan spina mengarah pada fraktur kompresi. Hal tersebut dapat menyebabkan konstipasi, distensi abdomen dan masalah pernafasan. Area fraktur yang sering adalah T-8 dan L-3. Penting juga melihat bagian distal akhir dari tulang radius atau sepertiga atas femur karena sering terjadi fraktur.

Pengkajian psikososial

Kaji konsep diri klien, khususnya yang mengalami kifosis berat, klien mungkin kesulitan mengenakan pakaian yang cocok. Perubahan dalam seksualitas mungkin terjadi akibat harga diri yang menurun atau karena posisi yang tidak nyaman selama berhubungan.
Ancaman terjadinya fraktur mengakibatkan klien merasa cemas, takut dan pembatasan aktivitas fisik serta sosialnya.

Pengkajian laboratorium

Tidak ada pemeriksaan yang definitif untuk mendiagnosis osteoporosis. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengatasi osteoporosis sekunder atau penyakit tulang metabolik lainya seperti osteomalasia, paget’s desease adalah kadar serum kalsium, vit. D, fosfor, alkalin fosfat juga dikaji kalsium urine, protein serum dan pemeriksaan fungsi thiroid untuk mengesampingkan adanya hiperthiroid.

Pengkajian Radiografi

Sinar X dari tulang belakang dan tulang-tulang panjang menunjukkan kehilangan densitas tulang dan adanya fraktur, tetapi kehilangan densitas tulang baru kelihatan setelah 25 – 40 % masa tulang.
Pemeriksaan CT (computed tomography) diperlukan untuk mendeteksi perubahan awal dan utamanya pada tulang belakang.

Pengkajian diagnostik lain

MRI (magnetic resonance imaging) kadang digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan densitas tulang, terutama pada tulang belakang.
Alat diagnostik terbaru untuk mendeteksi densitas tulang tanpa radiografi telah dikembangkan 1 dekade yang lalu khususnya di USA yaitu Photon Absorptiometry densitometer) dan Neutron Activation Analysis.

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pengkajian, diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan osteoporosis adalah sbb :
  1. Resiko tinggi terhadap cidera s.d. kecelakaan atau jatuh
  2. Kerusakan mobilitas fisik s.d. penurunan tonus otot, disfungsi/ nyeri sekunder terhadap fraktur sebelumnya.
  3. Nyeri s.d. deformitas dan pembengkaan s.d. fraktur

Diagnosa tambahan yang mungkin muncul pada penderita osteoporosis antara lain:
  1. Intoleransi aktivitas s.d. nyeri dan kerusakan mobilitas fisik
  2. Cemas s.d. takut fraktur
  3. Konstipasi kolon s.d. kifosis
  4. Pola nafas tidak efektif s.d. deformitas tulang belakang
  5. Koping individu tidak efektif s.d. perubahan body image dan perkembangan penyakit kronik
  6. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh s.d. intake kalsium tidak adekuat
  7. Gangguan body image s.d. deformitas tulang belakang
  8. Disfungsi seksual s.d. nyeri punggung dan deformitas
  9. Isolasi sosial s.d. nyeri punggung, deformitas tulang belakang, dan takut terjatuh

Intervensi dan Implementasi

Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi terhadap cidera s.d. kecelakaan atau jatuh
Tujuan : Klien tidak akan mengalami jatuh dan fraktur

Intervensi keperawatan :

Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya: usahakan klien bangun dari tempat tidur dari posisi yang lebih rendah, Ajari klien mengenakan sandal anti licin, Inspeksi lantai dan ruangan terhadap alat-alat yang bisa menyebabkan tersandung atau terhalang, Sediakan pencahayaan tambahan untuk pasien lansia, Tempatkan hal-hal yang penting dekat dengan TT klien sehingga mudah dijangkau, Ajari pentingnya dan penggunaan susuran tangan di kamar mandi

Sediakan bantuan berjalan jika perlu: Kaji kebutuhan tongkat atau walker, Kolaborasi dengan terapist fisik, Ajari klien meminta bantuan

Saat membantu aktivitas harian, cegah klien menabrak tangga, daun pintu dan seterusnya

Ajari klien berhenti secara pelan-pelan, ajari klien tidak mengangkat atau memindahkan obyek berat seperti furtinur RS

Monitor efek samping obat yang mungkin berhubungan dengan kondisi medis
Ajari pentingnya diet untuk mencegah osteoporosis: kolaborasi ahli gizi untuk pemberian diet, Ajari klien makanan yang tinggi kalsium, Ajari klien menurunkan intake kafein dan alkohol

Ajari klien pengaruh merokok pada remodeling tulang

Diagnosa Keperawatan : Kerusakan mobilitas fisik s.d. penurunan tonus otot, disfungsi/ nyeri sekunder terhadap fraktur sebelumnya.
Tujuan : Klien akan dapat meningkatkan mobilitas ketingkat ketidak tergantungan

Intervensi keperawatan :
Konsultasikan dengan terapis fisik program terapi (Strengthening and weight-bearing exercises): Bantu klien saat latihan jika perlu, Ajari klien bahwa ADL tidak dapat mengganti latihan yang dianjurkan, Ajari klien pentingnya latihan

Bantu klien melakukan ADL jika perlu biarkan klien independen jika mungkin

Kaji kebutuhan alat-alat bantu dan adaptif untuk melakukan ADL, konsultasikan dengan terapist okupasi untuk mendapatkan alat yang sesuai

Diagnosa Keperawatan : Nyeri s.d. deformitas dan pembengkaan s.d. fraktur
Tujuan : Klien akan dapat mengurangi nyeri sehingga dapat independen dalam perawatan

Intervensi keperawatan :

Kaji kebutuhan medikasi nyeri narkotik atau nonnarkotik, analgesik, relaksan otot, atau obat anti inflamasi

Pertahankan alat-alat ortostatik untuk fraktur vertebra : Periksa bahwa korset terpasang secara baik, Kaji kulit dimana alat menyebabkan tekanan, Gunakan alat bila klien turun dari TT

Gunakan kompres hangat di punggung untuk mengurangi nyeri

Baca Selengkapnya...

Rabu, 16 Maret 2011

Asuhan Keperawatan Nyeri Pinggang

Diperkirakan 80% populasi akan mengalami nyeri punggung bawah. Keterbatasan akibat masalah ini cukup berat. Secara ekonomis, penderita kehilangan produktivitasnya, mencapai milyaran rupiah. Jumlah kunjungan ke dokter menempati urutan ke dua setelah masalah pernafasan.

Penyebab nyeri punggung yang berhubungan dengan sistem muskuloskeletal antara lain Regangan lumbosakral akut, Ketidakstabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot, Osteoartritis tulang belakang, Masalah diskus intervertebralis, Ketidaksamaan panjang tungkai, Pada orang lansia bisa disebabkan oleh fraktur osteoporosis atau metastase tulang.

Pengkajian

Pasien biasanya mengeluh nyeri punggung akut atau kronis dan kelemahan. Kaji awal, lokasi nyeri, sifat nyeri, dan penyebarannya (konsep PQRST). Nyeri masalah muskuloskeletal biasanya bertambah dengan aktivitas.
Evaluasi cara berjalan klien, mobilitas tulang belakang, panjang tungkai, kekuatan motoris, dan persepsi sensoris. Peninggian tungkai dalam keadaan lurus yang mengakibatkan nyeri manandakan iritasi serabut saraf.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan spasme otot paravertebralis dan nyeri tekan pada otot paraspinal, disertai hilangnya lengkungan lordotik lumbal yang normal dan mungkin ada deformitas tulang belakang. Adanya nyeri punggung akan menyebabkan keterbatasan gerak yang pada gilirannya menyebabkan gangguan dalam aktivitas klien. Bila pasien dalam keadaan telungkup, otot paraspinal akan relaksasi, dan deformitas tulang yang diakibatkan oleh spasme akan menghilang.
Kaji adanya kecemasan dan stress, karena nyeri punggung bisa merupakan manifestasi depresi atau reaksi terhadap stressor lingkungan dan kehidupan. Kaji juga adanya obesitas karena dapat menyebabkan nyeri punggung bawah.

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan utama klien meliputi :
Nyeri yang berhubunagn dengan masalah muskuloskeletal
Kerusakan mobilitas fisik s.d. nyeri, spasme oto dan berkurangnya kelenturan
Kurang pengetahuan
Perubahan kinerja peran s.d. gangguan mobilitas atau nyeri kronik
Gangguan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh s.d obesitas

Kriteria Keberhasilan

Hilangnya nyeri
Perbaikan mobilitas fisik
Penggunaan tehnik mekanika tubuh melindungi tubuh
Perbaikan kinerja psien
Penurunan BB

Intervensi Keperawatan:

Meredakan nyeri:
Dorong klien mematuhi tirah baringdan mengubah posisi yang ditentukan untuk memperbaiki fleksi lumbal
Ajari klien mengontrol dan menyesuaikan nyeri yang dirasakan melalui terapi tingkah laku untuk mengurangi ketegangan otot dan psikologis, spt pernafasan diafragma, relaksasi, mengalihkan perhatian klien pada aktivitas lain (mis. Membaca, bercakap-cakap, menonton TV), imajinasi terbimbing.
Masase jaringan lunak dengan lembut untuk mengurangi spasme otot, memperbaiki peredaran darah, mengurangi pembendungan dan nyeri
Berikan obat-oabt analgetik, kaji respon klien setiap pemberian obat-obatan.
Rujuk kepada fisioterapis untuk terapi TENS. Secara umum alat ini digunakan selama 1-2 bulan.

Memperbaiki mobilitas Fisik
Pantau mobilitas fisik klien, kaji bagaimana klien bergerak dan berdiri
Bantu klien melakukan perubahan posisi dengan perlahan
Ajari klien turun dari tempat tidurpada posisi yang menimbulkan nyeri minimal.
Hindarkan terjadinya gerakan memutar dan melenggok.
Dorong pasien untuk berganti-ganti aktivitas berbaring, duduk, berdiri dan berjalan dan sebaliknya dalam waktu yang lama
Rencanakan periode istirahat berbaring di TT beberapa kli sehari untuk meminimalkan stress pada punggung
Dorong klien mematuhi program latihan sesuai dengan yang telah ditentukan (dua kali sehari). Tingkatkan secara bertahap
Berikan kesempatan klien untuk melakukan aktivitas rekreasi untuk mengganti latihan khusus tetapi jangan sampai menyebabkan tegangan, puntiran atau ketidaknyamanan punggung.

Meningkatkan mekanika tubuh yang tepat
Ajari klien berdiri, duduk, berbaring dan mengangkat barang dengan benar
Hindarkan klien mengenakan sepatu bertumit tinggi
Hindarkan klien berdiri yang terlalu lama, beritahu klien agar menjaga postur tubuh yang benar saat berdiri untuk menghindari lordosis lumbal
Ajari klien berjongkok dengan benar, lutut dan pinggul harus menekuk da lutut harus sama atau lebih tinggi dari pinggul untuk meminimalkan lordosis
Tidurkan klien dalam posisi miringdengan lutut dan pinggul ditekuk atau telentang dengan lutut dan pinggul ditekuk, atau telentang dg lutut disangga dalam dalam posisi fleksi. Hindarkan tidur telentang
Instruksikan klien cara mengangkat benda yang benar, yaitu menggunakan otot kuadrisep yang kuat dan otot punggung yang minimal.
Anjurkan klien menggunakan korset bila perlu saat mengangkat
Hindarkan klien mengangkat barang 1/3 berat badannya tanpa bantuan

Memperbaiki kinerja peran
Peran klien berubah sejak awitan terjadinya nyeri punggung. Bantu klien menghadapi stressor spesifik dan belajar bagaimana mengatasi stress. Sekali pasien berhasil akan mengambangkan percaya diri dalam kemampuannya mengatasi situasi stress yang lain.
Bantu klien dan keluarga terhadap pemahaman ketergantungan, bantu klien mengidentifikasi terjadinya ketergantungan
Bantu klien untuk kembali ke kehidupan produktif penuh

Mengubah nurisi untuk penurunan BB
Prinsipnya : diet sehingga BB menurun karena obesitas dapat menyebabkan ketegangan punggung.

Baca Selengkapnya...

Rabu, 16 Februari 2011

Jadwal Bimbingan dan Ujian PPGD

Bagi mahasiswa yang praktek PPGD atau dosen KMB yang kebetulan juga membimbing praktek PPGD, Silahkan di unduh Jadwal bimbingan PK PPGD ini.

Diberitahukan juga bahwa ujian PPGD menggunakan ruangan di luar IRD RSSA Malang. Untuk lebih jelasnya hubungi koordinator PPGD masing-masing prodi. Baca Selengkapnya...

Minggu, 13 Februari 2011

Jadwal Bimbingan PK KMB IV

Selamat bagi para mahasiswa yang telah melaksanakan PK KMB II dan sekarang memasuki PK KMB IV. Berikut kami sampaikan jadwal bimbingan PK KMB IV Mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang tahun akademik 2010/2011. Silahkan di unduh pada link ini.

Catatan:
Daerah arsiran : Jadwal ujian, dilakukan setiap minggu ke-3. Kecuali di prodi Blitar terdapat beberapa ujian yang dijadwalkan pada minggu ke-2 dan ke-4, menyesuaikan RS yang terdekat dengan kampus.
Ujian di RSSA dilakukan tiap hari kamis
Mohon kepada CI institusi segera berkoordinasi dengan CI ruangan pada minggu-minggu ujian
Baca Selengkapnya...

Senin, 24 Januari 2011

Lowongan Pekerjaan Politeknik Perkapalan

Bagi Alumni Poltekkes Malang ada info lowongan pekerjaan,

Dibutuhkan pegawai dengan kualifikasi pendidikan D3 Keperawatan

Persyaratan:

  • Surat lamaran, CV, FC IJazah & transkrip yang telah dilegalisir sebanyak 1 lembar serta pas photo ukuran 4x6 sebanyak 2 lembar
  • Diutamakan laki-laki
  • Usia max 30 tahun

Lamaran ditujukan kepada:
Direktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Kampus Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Jl. Teknik Kimia Kampus ITS Sukolilo Surabaya

Paling lambat lamaran diterima tanggal 31 Januari 2011

Semoga Beruntung!..
Baca Selengkapnya...

Pengumuman 9

Kepada seluruh mahasiswa Jurusan Keperawatan yang telah menyelesaikan praktek KMB II dimohon untuk segera mengumpulkan buku penilaian dan semua laporan termasuk askep Ujian(terdiri dari 4 sistem) ke masing-masing prodi.

  • Prodi Malang : Bpk. Rudi Hamarno, Ns, M.Kep
  • Prodi Lawang : Bpk. Arief Bachtiar, Ns, M.Kep
  • Prodi Blitar : Bpk. Tri Cahyo S, Ns, M.Kep, Sp.MB
Bagi mahasiswa yang tidak mencapai kompetensi sistem pada semester ini, tetap diwajibkan mengambil pada semester berikutnya. Sedangkan Askep yang sudah diambil pada semester ganjil akan dimasukkan ke semester genap apabila sesuai dengan sistem yang harus dicapai.

Demikian pemberitahuan ini, atas perhatiannya disampaikan terima kasih

Koordinator PK KMB II
Baca Selengkapnya...

Senin, 20 Desember 2010

Medikasi Inhalasi : SOP Terapi Nebulizer

Terapi Nebulizer adalah tindakan pembersihan jalan napas dengan menggunakan nebulizer.

Tujuan :
Melonggarkan jalan napas
Mengencerkan sekresi yang kental
Mengurangi inflamasi


Indikasi :
Adanya penyempitan jalan napas (Misal Asma Bronchiale
Pasien dengan infeksi saluran napas

Sebelum tindakan dilakukan perlu dilakukan pengkajian hal-hal sebagai berikut :
Keluhan Utama : Sesak napas, nyeri saat bernapas

Observasi :
Suara nafas : wheezing (+), Ronkhi (+)
RR meningkat (> 20x/mnt)
Irama Ireguler
Batuk produktif/kering
Sekret, warna, jumlah, konsistensi
Penggunaan otot bantu pernafasan
Pernafasan cuping hidung
Sianotik

Persiapan Tindakan :
Tabung oksigen
Alat Nebulizer (Kompressor, Selang
Masker
Obat (Mis: ventolin 2,5 mg
cairan steril

Pelaksanaan :
Mencuci tangan
Membawa peralatan ke dekat klien
Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Mengatur Posisi pasien semifowler
Buka tabung nebulizer dan masukkan cairan,
tuangkan obat (ventolin)sesuai dengan identitas dan advis dokter
Pastikan selanag dan masker tersambung pada nebulizer dengan benar
Hidupkan alat, cek apakah sudah berfungsi dengan baik
Atur pemberian oksigen 6 ltr/mnt
Bantu pasien untuk memakai masker dengan ikatan/tali melalui atas telinga hingga dibelakang kepala
Mencuci tangan
Baca Selengkapnya...

Rabu, 15 Desember 2010

Lowongan Tenaga Kesehatan ke Jepang

Bagi alumni D III keperawatan yang tertarik kerja ke Jepang, bisa klik link berikut ini. Tapi masalahnya waktunya sudah mendekati batas akhir. So... jangan memaksa apply bila tidak memungkinkan.
Baca Selengkapnya...

Pengumuman 8

Bersama ini disampaikan kepada seluruh pembimbing institusi dan mahasiswa yang menjalani PK KMB II agar surat pengantar praktek dimana pada minggu yang bersangkutan mahasiswa juga akan menjalani Penilaian Pencapaian Kompetensi (ujian Praktek Klinik) agar mencantumkan waktu pelaksanaan ujian yaitu hari kamis pada surat pengantarnya.

Kepada mahasiswa agar memeriksa surat pengantar sebelum diberikan ke RS, apabila tidak tercantum waktu ujian mohon dikembalikan untuk dibuatkan surat pengantar yang baru. Hal-hal yang kurang jelas mohon segera ditanyakan kepada koordinator PK KMB II.

Demikian pemberitahuan ini dibuat agar dapat memperlancar kegiatan praktek klinik di RS.


Malang, 15 Desember 2010

Koordinator PK KMB II
Baca Selengkapnya...

Senin, 13 Desember 2010

Pengumuman 7

Kepada seluruh CI Institusi dari masing-masing prodi dan seluruh mahasiswa yang menjalani praktek Keperawatan KMB II, diberitahukan bahwa untuk memudahkan koordinasi dengan CI ruangan dimohon agar pelaksanaan ujian PK KMB II yang dilaksanakan setiap minggu ketiga agar bertepatan dengan hari kamis.

Apabila ada hal-hal yang tidak dapat dihindari sehingga ujian PK KMB II tidak dapat dilaksanakan tepat pada waktunya di mohon CI institusi untuk berkoordinasi dengan CI ruangan.

Demikian pemberitahuan ini dibuat, atas perhatiaannya kami sampaikan terima kasih.


Malang, 13 Desember 2010
Koordinator PK KMB II
Baca Selengkapnya...

Minggu, 05 Desember 2010

Pengumuman 6

Bagi mahasiswa yang akan menjalani PK KMB II di RSUP Sanglah Denpasar Bali mulai tanggal 8 Desember 2010, diberitahukan bahwa acara pembukaan akan dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2010 pukul 07.30 bertempat di Diklat RSUP Sanglah. Oleh karena itu dimohon agar mahasiswa dapat hadir di tempat acara 15 menit sebelum acara di mulai. Akan hadir pembimbing institusi Bpk Arief Bachtiar, S.Kep., Ns, M.Kep. Bila ada hal-hal yang kurang jelas dapat langsung dikonfirmasi ke beliau.

Demikian pengumuman ini dibuat, atas perhatiaanya disampaikan terima kasih.
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 04 Desember 2010

Pengumuman 5

Berikut hasil rapat evaluasi PK KMB II yang penting untuk diketahui baik oleh dosen maupun oleh mahasiswa yang menjalani praktek.

Laporan Askep (Kasus) yang tidak sesuai dengan kompetensi:

Keputusan :
• Laporan askep (kasus) diusahakan sesuai dengan kompetensi semester saat ini (system saraf, pencernaan, pernafasan, dan kardiovaskuler)
• Apabila pada saat praktek mahasiswa tidak menemukan kasus yang sesuai maka kasus yang diambil minimal sesuai dengan kompetensi semester berikutnya (Semester VI) yaitu meliputi system musculoskeletal, endokrin, perkemihan, imun, kulit, atau penginderaan.
• Apabila kasus ada, namun jumlahnya sedikit diperbolehkan mengambil 1 kasus untuk 2 mahasiswa
• Bila memungkinkan mahasiswa dapat dipindah ke ruangan lain. Bagi yang pindah ke ruang lain, harap melapor ke kepala IRNA yang bersangkutan.
• Kalau semua keadaan di atas sudah dilakukan namun kasus juga tidak dapat ditemukan, diperbolehkan mahasiswa untuk mengambil kasus yang tidak sesuai kompetensi semester ini.

Model Ujian PK KMB :

Keputusan :
• Jika masih ada pasien, Ujian cukup dengan menggunakan askep yang sudah dilakukan oleh mahasiswa
• Bila pasien sudah pulang, Ujian dimulai dengan melakukan pengkajian baru dengan menggunakan format ujian dari jurusan keperawatan.

Mahasiswa Yang belum Ujian Praktek & Pembimbing yang belum menguji :

• Bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan masa praktek klinik KMB sementara belum menjalani ujian praktek, kemungkinan terburuk nilai ujian akan diambilkan dari Responsi Askep. Keputusan ini terutama berlaku bagi mahasiswa yang praktek di RS Sanglah Bali. Oleh karena itu bagi mahasiswa dan pembimbing yang bersangkutan dimohon untuk segera menyelesaikan masalah ini.
• Adapun selain itu, Diharap pembimbing segera melapor kepada coordinator masing-masing prodi untuk segera diambil keputusan selanjutnya.
• Nilai ujian yang hanya diberikan oleh salah seorang penguji (CI ruangan saja) tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu mohon kepada pembimbing institusi untuk segera menyelesaikannya.

Format Penilaian :
• Semua penilaian (Askep, LP dll) mohon merujuk pada buku panduan. Sedangkan untuk penilaian Sikap cukup dilakukan oleh CI ruangan saja

Pemanfaatan Web blog :

• Sebagai wadah komunikasi dan informasi Dosen dan Mahasiswa tentang KMB, Departemen telah membuat Web blog. Oleh karena itu mohon dioptimalkan untuk kepentingan bersama. Alamat situs : http://medsurnursing.blogspot.com.
• Bagi dosen yang ingin memberikan pengumuman agar dapat diakses oleh semua mahasiswa dapat mengirimkan pengumumannya via email : arief100.dep_kmb@blogger.com.
• Dosen juga diperkenankan untuk mengirimkan segala bentuk karya tulis dalam bentuk berita, artikel, profil, dokumentasi (Foto atau video) dan lain-lain.

Demikian pengumuman ini dibuat, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.
Baca Selengkapnya...

Rapat Evaluasi PK KMB II

Setelah praktek Klinik berjalan hampir 2 minggu, muncul berbagai persoalan di lapangan berkaitan dengan PK KMB II. Beberapa masalah yang teridentifikasi misalnya tidak sesuainya kasus yang dikelolah mahasiswa dengan kompetensi yang seharusnya dicapai, mahasiswa belum menjalani Uji Praktek sedangkan masa praktek sudah berakhir dll.

Meskipun sempat molor dari perencanaan awal, akhirnya rapat evaluasi dapat pula diselenggarakan, yaitu pada hari jum'at tanggal 3 Desember 2010 dari pukul 13.00 - 16.00 WIB. Rapat ini mengundang semua dosen KMB, namun tidak semua dapat hadir. Terdapat 2 orang yang tidak hadir karena sakit sementara dosen lainnya dinas luar. Meskipun rapat tidak dihadiri oleh semua dosen KMB, namun sudah memenuhi kuorum. Hadir dari prodi Malang sekaligus ketua departemen KMB Rudi Hamarno, S.Kep,Ns,M.Kep, Joko Pitoyo, SKp, M.Kep, Roni Yuliwar, S.Kep, Ns,M.Ked, Welly Vitriawan, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.MB, Drs. MZ Zainol Rachman, SST.

Dari Prodi Lawang hadir sekaligus Koordinator PK KMB Arief Bachtiar, S.Kep, Ns, M.Kep, Supono, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.MB. Dari Prodi Blitar hadir Wiwin Martiningsih, S.Kep, Ns, M.Kep dan Tri Cahyo Sepdiyanto, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.MB. Hadir pula dalam rapat PPT Akademik Jurusan Keperawatan yang memberikan arahan pada awal acara.

Adapun hasil-hasil evaluasi dapat rapat tersebut dapat dilihat pada
pengumuman 5 di situs ini. Baca Selengkapnya...

Senin, 29 November 2010

Asuhan Keperawatan Gagal Jantung Kongestif

Definisi
Gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure/CHF) adalah kondisi dimana fungsi jantung sebagai pemompa tidak adekuat untuk mendistribusikan darah yang banyak mengandung oksigen ke seluruh tubuh. Dikenal juga dengan istilah dekompensasi kordis.

Penyebab
Gagal jantung kongestif dapat disebabkan oleh: 1) penyakit-penyakit yang melemahkan otot jantung, 2) penyakit-penyakit yang kekakuan otot-otot jantung, 3) penyakit-penyakit yang meningkatkan kebutuhan jaringan tubuh akan oksigen diluar batas kemampuan jantung.

Patofisiologi
Jantung yang normal dapat berespons terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme yang menggunakan mekanisme kompensasi yang bervariasi untuk mempertahankan kardiak output. Ini mungkin meliputi: respons sistem syaraf simpatetik terhadap baro reseptor atau kemoreseptor, pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuikan terhadap peningkatan volume, vasokonstyrinksi arteri renal dan aktivasi sistem renin angiotensin serta respon terhadap serum-serum sodium dan regulasi ADH dari reabsorbsi cairan.

Kegagalan mekanisme kompensasi di percepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang di pompakan untuk menentang peningkatan resisitensi vaskuler oleh pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendek waktu pengisian ventrikel dan arteri koronaria, menurunnya kardiak ouput menyebabkan berkurangnya oksigenasi pada miokard.

Peningkatan tekanan dinding pembuluh darah akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tunutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertropi) terutama pada jantung iskemik atau kerusakan, yang menyebabkan kegagalan mekanisme pemompaan.

Klasifikasi
Menurut NYHA (New York Heart Association), CHF diklasifikasikan dalam 4 tingkatan yaitu:
Class I : Timbul gejala bila melakukan aktivitas berlebihan
Class II : Timbul gejala saat aktivitas biasa
Class III : Timbul gejala hanya dengan melakukan aktivitas minimal
Class IIIa : Tidak ada dispnea saat istirahat
Class IIIb : Timbul dispnea saat istirahat
Class IV : Gejala timbul meskipun dalam kondisi istirahat

Pengkajian Keperawatan

Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas).

Sirkulasi
Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus. Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia. Suara jantung , suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi. Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia). Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal. Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung. Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.

Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.Menghapus Format dari bidang pilihan

Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.

Hygiene perseorangan
Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan

Neorusensori
Nyeri kepala yang hebat, Changes mentation.

Kenyamanan
Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin. Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan wajah. Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran.

Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.

Interaksi sosial
Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.

Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.

Studi diagnostik
ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dari iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis.
Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia.
Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan.
Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis atau akut.
Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikuler.
Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
Exercise stress test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas.

Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan

Diagnosa 1: Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penuruna tekanan dan cara berelaksasi.
Rencana:
1. Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
2. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
3. Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
4. Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman.
5. Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik relaksasi.
6. Kolaborasi dalam:
- Pemberian oksigen.
- Obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesic)
7. Ukur tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan pengobatan dengan narkosa.

Diagnosa 2: Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
Tujuan: setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Rencana:
1. Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
2. Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
3. Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada saat buang air besar.
4. Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
5. Tunjukan pada pasien tentang tanda-tanda fisiki bahwa aktivitas melebihi batas.

Diagnosa 3: Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan: tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.
Rencana:
1. Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan).
2. Kaji kualitas nadi.
3. Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
4. Auskultasi suara nafas.
5. Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
6. Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
7. Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti
disritmia.

Diagnosa 4: Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
Tujuan: selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
Rencana:
1. Kaji adanya perubahan kesadaran.
2. Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
3. Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
4. Kaji respirasi (irama, kedalam dan usaha pernafasan).
5. Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
6. Monitor intake dan out put.
7. Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.

Diagnosa 5: Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan: tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
Rencana:
1. Auskultasi suar nafas (kaji adanya crackless).
2. Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
3. Ukur intake dan output (balance cairan).
4. Kaji berat badan setiap hari.
5. Najurkan pada pasien untuk mengkonsumsi total cairan maksimal 2000 cc/24 jam.
6. Sajikan makan dengan diet rendah garam.
7. Kolaborasi dalam pemberian deuritika.
Baca Selengkapnya...