Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2011

Asuhan Keperawatan Osteoporosis


Osteoporosis adalah penyakit metabolik yang berhubungan dengan usia, dimana terjadi demineralisasi tulang akibat dari penurunan densitas yang dapat berakibat terjadinya fraktur. Daerah yang sering terkena meliputi pergelangan tangan, daerah paha, dan tulang belakang.

Penyebab pasti dari osteoporosis tidak diketahui. Namun sejumlah faktor resiko telah diidentifikasi, antara lain wanita postmenopause, penuaaan, faktor makanan (diet kurang kalsium dan vitamin D,Defisiensi protein, komsumsi rokok dan alkohol serta faktor herediter.

Osteoporosis diklasifikasi menjadi Osteoporosis Primer dan sekunder. Osteoporosis Primer paling sering dan tidak berhubungan dengan kondisi patologi yang mendasari sedangkan Osteoporosis Sekunder terjadi akibat dari kondisi medik seperti hipertiroidisme, terapi kortikosteroid jangka panjang. Osteoporosis primer masih dibagi lagi menjadi Tipe 1 (post menopause) dimana tipe ini terjadi pada wanita usia 55 – 65 tahun, dan sering mengakibatkan fraktur vertebra atau pergelangan tangan. Tipe ke-2 (senile), terjadi pada orang di atas usia 65 tahun, dan sering mengakibatkan fraktur vertebra dan femur.

Patofisiologi terjadinya osteoporosis karena proses degeneratif (penuaan/post menopause) terjadi disebabkan karena pada usia lanjut terjadi penurunan kalsitonin, hormon estrogen dan hormon paratiroid. Penurunan kalsitonin menyebabkan hambatan resorpsi tulang menurun sehingga rangsang pembentukan tulang juga menurun. penurunan hormon estrogen mengakibatkan pemecahan tulang meningkat. Penurunan hormon paratiroid mengakibatkan resorpsi tulang meningkat. Ketiga hal di atas menyebabkan masa tulang menjadi turun.

Proses Keperawatan pada klein osteoporosis

Pengkajian

Riwayat
Perawat perlu mengkaji usia, jenis kelamin dan ras, karena gangguan sering terjadi pada usia pertengahan dan usia lanjut, kaukasia, wanita menopause, tipe tubuh, karena tubuh kurus lebih rentan. Tanyakan juga paparan sinar matahari, konsumsi rokok, alkohol dan kafein.
Dapatkan juga riwayat diet terutama untuk mendapatkan keterangan intake Kalsium dan vitamin D. Tanyakan juga aktivitas rutin klien.
Kaji kondisi kesehatan saat ini yang mungkin menyebabkan perkembangan osteoporosis, kalau tidak mungkin dapatkan catatan medis sebelumnya. Perlu ditanyakan pengobatan sebelumnya dan saat ini untuk mengetahui apakah klien dalam penanganan osteoporosis.
Akhirnya dapatkan riwayat keluarga. Karena klien sering masuk dengan fraktur, dapatkan informasi riwayat jatuh.

Pengkajian Fisik / Manifestasi Klinik

Lakukan pengkajian awal sistem muskuloskeletal dengan inspeksi dan palpasi kolumna vertebra biasanya di dapatkan “dowager’s hump” atau kifosis pada tulang belakang, klien mengaku lebih pendek 5 – 7 cm selama kurun 20 tahun. Menyertai deformitas tulang adalah adanya keluhan nyeri punggung yang sering terjadi setelah mengangkat atau membungkuk. Nyeri mungkin dirasa tajam dan akut pada awalnya dan bertambah buruk saat beraktivitas serta hilang jika beristirahat. Palpasi pada vertebra thorakal bawah dan lumbar biasanya nyeri.
Nyeri punggung yang disertai restriksi pergerakan spina mengarah pada fraktur kompresi. Hal tersebut dapat menyebabkan konstipasi, distensi abdomen dan masalah pernafasan. Area fraktur yang sering adalah T-8 dan L-3. Penting juga melihat bagian distal akhir dari tulang radius atau sepertiga atas femur karena sering terjadi fraktur.

Pengkajian psikososial

Kaji konsep diri klien, khususnya yang mengalami kifosis berat, klien mungkin kesulitan mengenakan pakaian yang cocok. Perubahan dalam seksualitas mungkin terjadi akibat harga diri yang menurun atau karena posisi yang tidak nyaman selama berhubungan.
Ancaman terjadinya fraktur mengakibatkan klien merasa cemas, takut dan pembatasan aktivitas fisik serta sosialnya.

Pengkajian laboratorium

Tidak ada pemeriksaan yang definitif untuk mendiagnosis osteoporosis. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengatasi osteoporosis sekunder atau penyakit tulang metabolik lainya seperti osteomalasia, paget’s desease adalah kadar serum kalsium, vit. D, fosfor, alkalin fosfat juga dikaji kalsium urine, protein serum dan pemeriksaan fungsi thiroid untuk mengesampingkan adanya hiperthiroid.

Pengkajian Radiografi

Sinar X dari tulang belakang dan tulang-tulang panjang menunjukkan kehilangan densitas tulang dan adanya fraktur, tetapi kehilangan densitas tulang baru kelihatan setelah 25 – 40 % masa tulang.
Pemeriksaan CT (computed tomography) diperlukan untuk mendeteksi perubahan awal dan utamanya pada tulang belakang.

Pengkajian diagnostik lain

MRI (magnetic resonance imaging) kadang digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan densitas tulang, terutama pada tulang belakang.
Alat diagnostik terbaru untuk mendeteksi densitas tulang tanpa radiografi telah dikembangkan 1 dekade yang lalu khususnya di USA yaitu Photon Absorptiometry densitometer) dan Neutron Activation Analysis.

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pengkajian, diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan osteoporosis adalah sbb :
  1. Resiko tinggi terhadap cidera s.d. kecelakaan atau jatuh
  2. Kerusakan mobilitas fisik s.d. penurunan tonus otot, disfungsi/ nyeri sekunder terhadap fraktur sebelumnya.
  3. Nyeri s.d. deformitas dan pembengkaan s.d. fraktur

Diagnosa tambahan yang mungkin muncul pada penderita osteoporosis antara lain:
  1. Intoleransi aktivitas s.d. nyeri dan kerusakan mobilitas fisik
  2. Cemas s.d. takut fraktur
  3. Konstipasi kolon s.d. kifosis
  4. Pola nafas tidak efektif s.d. deformitas tulang belakang
  5. Koping individu tidak efektif s.d. perubahan body image dan perkembangan penyakit kronik
  6. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh s.d. intake kalsium tidak adekuat
  7. Gangguan body image s.d. deformitas tulang belakang
  8. Disfungsi seksual s.d. nyeri punggung dan deformitas
  9. Isolasi sosial s.d. nyeri punggung, deformitas tulang belakang, dan takut terjatuh

Intervensi dan Implementasi

Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi terhadap cidera s.d. kecelakaan atau jatuh
Tujuan : Klien tidak akan mengalami jatuh dan fraktur

Intervensi keperawatan :

Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya: usahakan klien bangun dari tempat tidur dari posisi yang lebih rendah, Ajari klien mengenakan sandal anti licin, Inspeksi lantai dan ruangan terhadap alat-alat yang bisa menyebabkan tersandung atau terhalang, Sediakan pencahayaan tambahan untuk pasien lansia, Tempatkan hal-hal yang penting dekat dengan TT klien sehingga mudah dijangkau, Ajari pentingnya dan penggunaan susuran tangan di kamar mandi

Sediakan bantuan berjalan jika perlu: Kaji kebutuhan tongkat atau walker, Kolaborasi dengan terapist fisik, Ajari klien meminta bantuan

Saat membantu aktivitas harian, cegah klien menabrak tangga, daun pintu dan seterusnya

Ajari klien berhenti secara pelan-pelan, ajari klien tidak mengangkat atau memindahkan obyek berat seperti furtinur RS

Monitor efek samping obat yang mungkin berhubungan dengan kondisi medis
Ajari pentingnya diet untuk mencegah osteoporosis: kolaborasi ahli gizi untuk pemberian diet, Ajari klien makanan yang tinggi kalsium, Ajari klien menurunkan intake kafein dan alkohol

Ajari klien pengaruh merokok pada remodeling tulang

Diagnosa Keperawatan : Kerusakan mobilitas fisik s.d. penurunan tonus otot, disfungsi/ nyeri sekunder terhadap fraktur sebelumnya.
Tujuan : Klien akan dapat meningkatkan mobilitas ketingkat ketidak tergantungan

Intervensi keperawatan :
Konsultasikan dengan terapis fisik program terapi (Strengthening and weight-bearing exercises): Bantu klien saat latihan jika perlu, Ajari klien bahwa ADL tidak dapat mengganti latihan yang dianjurkan, Ajari klien pentingnya latihan

Bantu klien melakukan ADL jika perlu biarkan klien independen jika mungkin

Kaji kebutuhan alat-alat bantu dan adaptif untuk melakukan ADL, konsultasikan dengan terapist okupasi untuk mendapatkan alat yang sesuai

Diagnosa Keperawatan : Nyeri s.d. deformitas dan pembengkaan s.d. fraktur
Tujuan : Klien akan dapat mengurangi nyeri sehingga dapat independen dalam perawatan

Intervensi keperawatan :

Kaji kebutuhan medikasi nyeri narkotik atau nonnarkotik, analgesik, relaksan otot, atau obat anti inflamasi

Pertahankan alat-alat ortostatik untuk fraktur vertebra : Periksa bahwa korset terpasang secara baik, Kaji kulit dimana alat menyebabkan tekanan, Gunakan alat bila klien turun dari TT

Gunakan kompres hangat di punggung untuk mengurangi nyeri

Baca Selengkapnya...

Rabu, 16 Maret 2011

Asuhan Keperawatan Nyeri Pinggang

Diperkirakan 80% populasi akan mengalami nyeri punggung bawah. Keterbatasan akibat masalah ini cukup berat. Secara ekonomis, penderita kehilangan produktivitasnya, mencapai milyaran rupiah. Jumlah kunjungan ke dokter menempati urutan ke dua setelah masalah pernafasan.

Penyebab nyeri punggung yang berhubungan dengan sistem muskuloskeletal antara lain Regangan lumbosakral akut, Ketidakstabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot, Osteoartritis tulang belakang, Masalah diskus intervertebralis, Ketidaksamaan panjang tungkai, Pada orang lansia bisa disebabkan oleh fraktur osteoporosis atau metastase tulang.

Pengkajian

Pasien biasanya mengeluh nyeri punggung akut atau kronis dan kelemahan. Kaji awal, lokasi nyeri, sifat nyeri, dan penyebarannya (konsep PQRST). Nyeri masalah muskuloskeletal biasanya bertambah dengan aktivitas.
Evaluasi cara berjalan klien, mobilitas tulang belakang, panjang tungkai, kekuatan motoris, dan persepsi sensoris. Peninggian tungkai dalam keadaan lurus yang mengakibatkan nyeri manandakan iritasi serabut saraf.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan spasme otot paravertebralis dan nyeri tekan pada otot paraspinal, disertai hilangnya lengkungan lordotik lumbal yang normal dan mungkin ada deformitas tulang belakang. Adanya nyeri punggung akan menyebabkan keterbatasan gerak yang pada gilirannya menyebabkan gangguan dalam aktivitas klien. Bila pasien dalam keadaan telungkup, otot paraspinal akan relaksasi, dan deformitas tulang yang diakibatkan oleh spasme akan menghilang.
Kaji adanya kecemasan dan stress, karena nyeri punggung bisa merupakan manifestasi depresi atau reaksi terhadap stressor lingkungan dan kehidupan. Kaji juga adanya obesitas karena dapat menyebabkan nyeri punggung bawah.

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan utama klien meliputi :
Nyeri yang berhubunagn dengan masalah muskuloskeletal
Kerusakan mobilitas fisik s.d. nyeri, spasme oto dan berkurangnya kelenturan
Kurang pengetahuan
Perubahan kinerja peran s.d. gangguan mobilitas atau nyeri kronik
Gangguan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh s.d obesitas

Kriteria Keberhasilan

Hilangnya nyeri
Perbaikan mobilitas fisik
Penggunaan tehnik mekanika tubuh melindungi tubuh
Perbaikan kinerja psien
Penurunan BB

Intervensi Keperawatan:

Meredakan nyeri:
Dorong klien mematuhi tirah baringdan mengubah posisi yang ditentukan untuk memperbaiki fleksi lumbal
Ajari klien mengontrol dan menyesuaikan nyeri yang dirasakan melalui terapi tingkah laku untuk mengurangi ketegangan otot dan psikologis, spt pernafasan diafragma, relaksasi, mengalihkan perhatian klien pada aktivitas lain (mis. Membaca, bercakap-cakap, menonton TV), imajinasi terbimbing.
Masase jaringan lunak dengan lembut untuk mengurangi spasme otot, memperbaiki peredaran darah, mengurangi pembendungan dan nyeri
Berikan obat-oabt analgetik, kaji respon klien setiap pemberian obat-obatan.
Rujuk kepada fisioterapis untuk terapi TENS. Secara umum alat ini digunakan selama 1-2 bulan.

Memperbaiki mobilitas Fisik
Pantau mobilitas fisik klien, kaji bagaimana klien bergerak dan berdiri
Bantu klien melakukan perubahan posisi dengan perlahan
Ajari klien turun dari tempat tidurpada posisi yang menimbulkan nyeri minimal.
Hindarkan terjadinya gerakan memutar dan melenggok.
Dorong pasien untuk berganti-ganti aktivitas berbaring, duduk, berdiri dan berjalan dan sebaliknya dalam waktu yang lama
Rencanakan periode istirahat berbaring di TT beberapa kli sehari untuk meminimalkan stress pada punggung
Dorong klien mematuhi program latihan sesuai dengan yang telah ditentukan (dua kali sehari). Tingkatkan secara bertahap
Berikan kesempatan klien untuk melakukan aktivitas rekreasi untuk mengganti latihan khusus tetapi jangan sampai menyebabkan tegangan, puntiran atau ketidaknyamanan punggung.

Meningkatkan mekanika tubuh yang tepat
Ajari klien berdiri, duduk, berbaring dan mengangkat barang dengan benar
Hindarkan klien mengenakan sepatu bertumit tinggi
Hindarkan klien berdiri yang terlalu lama, beritahu klien agar menjaga postur tubuh yang benar saat berdiri untuk menghindari lordosis lumbal
Ajari klien berjongkok dengan benar, lutut dan pinggul harus menekuk da lutut harus sama atau lebih tinggi dari pinggul untuk meminimalkan lordosis
Tidurkan klien dalam posisi miringdengan lutut dan pinggul ditekuk atau telentang dengan lutut dan pinggul ditekuk, atau telentang dg lutut disangga dalam dalam posisi fleksi. Hindarkan tidur telentang
Instruksikan klien cara mengangkat benda yang benar, yaitu menggunakan otot kuadrisep yang kuat dan otot punggung yang minimal.
Anjurkan klien menggunakan korset bila perlu saat mengangkat
Hindarkan klien mengangkat barang 1/3 berat badannya tanpa bantuan

Memperbaiki kinerja peran
Peran klien berubah sejak awitan terjadinya nyeri punggung. Bantu klien menghadapi stressor spesifik dan belajar bagaimana mengatasi stress. Sekali pasien berhasil akan mengambangkan percaya diri dalam kemampuannya mengatasi situasi stress yang lain.
Bantu klien dan keluarga terhadap pemahaman ketergantungan, bantu klien mengidentifikasi terjadinya ketergantungan
Bantu klien untuk kembali ke kehidupan produktif penuh

Mengubah nurisi untuk penurunan BB
Prinsipnya : diet sehingga BB menurun karena obesitas dapat menyebabkan ketegangan punggung.

Baca Selengkapnya...

Senin, 29 November 2010

Asuhan Keperawatan Gagal Jantung Kongestif

Definisi
Gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure/CHF) adalah kondisi dimana fungsi jantung sebagai pemompa tidak adekuat untuk mendistribusikan darah yang banyak mengandung oksigen ke seluruh tubuh. Dikenal juga dengan istilah dekompensasi kordis.

Penyebab
Gagal jantung kongestif dapat disebabkan oleh: 1) penyakit-penyakit yang melemahkan otot jantung, 2) penyakit-penyakit yang kekakuan otot-otot jantung, 3) penyakit-penyakit yang meningkatkan kebutuhan jaringan tubuh akan oksigen diluar batas kemampuan jantung.

Patofisiologi
Jantung yang normal dapat berespons terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme yang menggunakan mekanisme kompensasi yang bervariasi untuk mempertahankan kardiak output. Ini mungkin meliputi: respons sistem syaraf simpatetik terhadap baro reseptor atau kemoreseptor, pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuikan terhadap peningkatan volume, vasokonstyrinksi arteri renal dan aktivasi sistem renin angiotensin serta respon terhadap serum-serum sodium dan regulasi ADH dari reabsorbsi cairan.

Kegagalan mekanisme kompensasi di percepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang di pompakan untuk menentang peningkatan resisitensi vaskuler oleh pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendek waktu pengisian ventrikel dan arteri koronaria, menurunnya kardiak ouput menyebabkan berkurangnya oksigenasi pada miokard.

Peningkatan tekanan dinding pembuluh darah akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tunutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertropi) terutama pada jantung iskemik atau kerusakan, yang menyebabkan kegagalan mekanisme pemompaan.

Klasifikasi
Menurut NYHA (New York Heart Association), CHF diklasifikasikan dalam 4 tingkatan yaitu:
Class I : Timbul gejala bila melakukan aktivitas berlebihan
Class II : Timbul gejala saat aktivitas biasa
Class III : Timbul gejala hanya dengan melakukan aktivitas minimal
Class IIIa : Tidak ada dispnea saat istirahat
Class IIIb : Timbul dispnea saat istirahat
Class IV : Gejala timbul meskipun dalam kondisi istirahat

Pengkajian Keperawatan

Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas).

Sirkulasi
Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus. Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia. Suara jantung , suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi. Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia). Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal. Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung. Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.

Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.Menghapus Format dari bidang pilihan

Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.

Hygiene perseorangan
Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan

Neorusensori
Nyeri kepala yang hebat, Changes mentation.

Kenyamanan
Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin. Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan wajah. Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran.

Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.

Interaksi sosial
Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.

Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.

Studi diagnostik
ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dari iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis.
Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia.
Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan.
Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis atau akut.
Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikuler.
Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
Exercise stress test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas.

Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan

Diagnosa 1: Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penuruna tekanan dan cara berelaksasi.
Rencana:
1. Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
2. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
3. Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
4. Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman.
5. Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik relaksasi.
6. Kolaborasi dalam:
- Pemberian oksigen.
- Obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesic)
7. Ukur tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan pengobatan dengan narkosa.

Diagnosa 2: Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
Tujuan: setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Rencana:
1. Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
2. Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
3. Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada saat buang air besar.
4. Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
5. Tunjukan pada pasien tentang tanda-tanda fisiki bahwa aktivitas melebihi batas.

Diagnosa 3: Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan: tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.
Rencana:
1. Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan).
2. Kaji kualitas nadi.
3. Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
4. Auskultasi suara nafas.
5. Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
6. Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
7. Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti
disritmia.

Diagnosa 4: Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
Tujuan: selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
Rencana:
1. Kaji adanya perubahan kesadaran.
2. Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
3. Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
4. Kaji respirasi (irama, kedalam dan usaha pernafasan).
5. Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
6. Monitor intake dan out put.
7. Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.

Diagnosa 5: Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan: tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
Rencana:
1. Auskultasi suar nafas (kaji adanya crackless).
2. Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
3. Ukur intake dan output (balance cairan).
4. Kaji berat badan setiap hari.
5. Najurkan pada pasien untuk mengkonsumsi total cairan maksimal 2000 cc/24 jam.
6. Sajikan makan dengan diet rendah garam.
7. Kolaborasi dalam pemberian deuritika.
Baca Selengkapnya...

Selasa, 16 November 2010

Asuhan Keperawatan Pasien Low Back Pain

A. Pendahuluan
Diperkirakan 80% populasi akan mengalami nyeri punggung bawah (Low Back Pain). Keterbatasan akibat masalah ini cukup berat. Secara ekonomis, penderita kehilangan produktivitasnya, mencapai milyaran rupiah. Jumlah kunjungan ke dokter menempati urutan ke dua setelah masalah pernafasan.

B. Etiologi
Penyebab nyeri punggung yang berhubungan dengan sistem muskuloskeletal antara lain :
1. Regangan lumbosakral akut
2. Ketidakstabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot
3. Osteoartritis tulang belakang
4. Masalah diskus intervertebralis
5. Ketidaksamaan panjang tungkai
6. Pada orang lansia bisa disebabkan oleh fraktur osteoporosis atau metastase tulang

C. Pengkajian
Pasien biasanya mengeluh nyeri punggung akut atau kronis dan kelemahan. Kaji awal, lokasi nyeri, sifat nyeri, dan penyebarannya (konsep PQRST). Nyeri masalah muskuloskeletal biasanya bertambah dengan aktivitas.
Evaluasi cara berjalan klien, mobilitas tulang belakang, panjang tungkai, kekuatan motoris, dan persepsi sensoris. Peninggian tungkai dalam keadaan lurus yang mengakibatkan nyeri manandakan iritasi serabut saraf.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan spasme otot paravertebralis dan nyeri tekan pada otot paraspinal, disertai hilangnya lengkungan lordotik lumbal yang normal dan mungkin ada deformitas tulang belakang. Adanya nyeri punggung akan menyebabkan keterbatasan gerak yang pada gilirannya menyebabkan gangguan dalam aktivitas klien. Bila pasien dalam keadaan telungkup, otot paraspinal akan relaksasi, dan deformitas tulang yang diakibatkan oleh spasme akan menghilang.
Kaji adanya kecemasan dan stress, karena nyeri punggung bisa merupakan manifestasi depresi atau reaksi terhadap stressor lingkungan dan kehidupan. Kaji juga adanya obesitas karena dapat menyebabkan n yeri punggung bawah.

D. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan utama klien meliputi :
1. Nyeri yang masalah muskuloskeletal
2. Kerusakan mobilitas fisik s.d. nyeri, spasme oto dan berkurangnya kelenturan
3. Kurang pengetahuan
4. Perubahan kinerja peran s.d. gangguan mobilitas atau nyeri kronik
5. Gangguan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh s.d obesitas

E. Intervensi dan Implementasi
Sasaran uatama klien meliputi :
1. Hilangnya nyeri
2. Perbaikan mobilitas fisik
3. Penggunaan tehnik mekanika tubuh melindungi tubuh
4. Perbaikan kinerja psien
5. Penurunan BB

Intervensi Keperawatan
1. Meredakan Nyeri
a. Dorong klien mematuhi tirah baringdan mengubah posisi yang ditentukan untuk memperbaiki fleksi lumbal
b. Ajari klien mengontrol dan menyesuaikan nyeri yang dirasakan melalui terapi tingkah laku untuk mengurangi ketegangan otot dan psikologis, spt pernafasan diafragma, relaksasi, mengalihkan perhatian klien pada aktivitas lain (mis. Membaca, bercakap-cakap, menonton TV), imajinasi terbimbing.
c. Masase jaringan lunak dengan lembut untuk mengurangi spasme otot, memperbaiki peredaran darah, mengurangi pembendungan dan nyeri
d. Berikan obat-oabt analgetik, kaji respon klien setiap pemberian obat-obatan.
e. Rujuk kepada fisioterapis untuk terapi TENS. Secara umum alat ini digunakan selama 1-2 bulan.

2. Memperbaiki mobilitas Fisik
a. Pantau mobilitas fisik klien, kaji bagaimana klien bergerak dan berdiri
b. Bantu klien melakukan perubahan posisi dengan perlahan
c. Ajari klien turun dari tempat tidurpada posisi yang menimbulkan nyeri minimal.
d. Hindarkan terjadinya gerakan memutar dan melenggok.
e. Dorong pasien untuk berganti-ganti aktivitas berbaring, duduk, berdiri dan berjalan dan sebaliknya dalam waktu yang lama
f. Rencanakan periode istirahat berbaring di TT beberapa kli sehari untuk meminimalkan stress pada punggung
g. Dorong klien mematuhi program latihan sesuai dengan yang telah ditentukan (dua kali sehari). Tingkatkan secara bertahap
h. Berikan kesempatan klien untuk melakukan aktivitas rekreasi untuk mengganti latihan khusus tetapi jangan sampai menyebabkan tegangan, puntiran atau ketidaknyamanan punggung.

3. Meningkatkan mekanika tubuh yang tepat
a. Ajari klien berdiri, duduk, berbaring dan mengangkat barang dengan benar
b. Hindarkan klien mengenakan sepatu bertumit tinggi
c. Hindarkan klien berdiri yang terlalu lama, beritahu klien agar menjaga postur tubuh yang benar saat berdiri untuk menghindari lordosis lumbal
d. Ajari klien berjongkok dengan benar, lutut dan pinggul harus menekuk da lutut harus sama atau lebih tinggi dari pinggul untuk meminimalkan lordosis
e. Tidurkan klien dalam posisi miringdengan lutut dan pinggul ditekuk atau telentang dengan lutut dan pinggul ditekuk, atau telentang dg lutut disangga dalam dalam posisi fleksi. Hindarkan tidur telentang
f. Instruksikan klien cara mengangkat benda yang benar, yaitu menggunakan otot kuadrisep yang kuat dan otot punggung yang minimal.
g. Anjurkan klien menggunakan korset bila perlu saat mengangkat
h. Hindarkan klien mengangkat barang 1/3 berat badannya tanpa bantuan

4. Memperbaiki kinerja peran
a. Peran klien berubah sejak awitan terjadinya nyeri punggung. Bantu klien menghadapi stressor spesifik dan belajar bagaimana mengatasi stress. Sekali pasien berhasil akan mengambangkan percaya diri dalam kemampuannya mengatasi situasi stress yang lain.
b. Bantu klien dan keluarga terhadap pemahaman ketergantungan, bantu klien mengidentifikasi terjadinya ketergantungan
c. Bantu klien untuk kembali ke kehidupan produktif penuh

5. Mengubah nurisi untuk penurunan BB
Prinsipnya : diet sehingga BB menurun karena obesitas dapat menyebabkan ketegangan punggung.

F. Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1. Mengalami peredaan nyeri
a. Istirahat dengan nyaman
b. Mengubah posisi dengan nyaman
c. Mengalami peredaan nyeri melalui penggunaan modalitas fisik, tehnik psikologis dan meditasi
d. Menghindari ketergantungan obat

2. Menunjuknya kembalinya mobilitas fisik
a.Kembali aktivitas secara bertahap
b.Menghindari nyeri yang menyebabkan ketidaknyamanan dan spasme otot
c.Merencanakan istirahat baring sepanjang hari

3. Menunjukkan mekanika tubuh yang memelihara punggung
a. Perbaikan postur
b. Mengganti posisi sendiri untuk meminimalkan stress ada punggung
c. Memperlihatkan penggunaan mekanika tubuh yang baik
d. Berpartisipasi dalam program latihan

4. Kembali ke TJ yang berhubungan dengan peran
a. Menggunakan tehnik menghadapi masalah untuk menyesuaikan diri dengan situasi tsress
b. Memperlihatkan berkurangnya ketergantungan kepada orang lain untuk perawatan diri
c. Kembali ke pekerjaan bila nyeri punggung bawah telah sembuh
d. Kembali ke gaya hisup produktif penuh

5. Mencapai BB yang diinginkan
a. Mengidentifikasi perlunya penurunan BB
b. Berpartisipasi dalam pengembangan rencana penurunan BB
c. Setia dengan proram penurunan BB
Baca Selengkapnya...

Selasa, 02 November 2010

Asuhan Keperawatan Glukoma

Glukoma merupakan penyebab kebutaan kedua paling sering dinegara-negara industri. Menempati peringkat pertama penyebab kebutaan keturunan Amerika – Afrika. Insidennya sebesar 10% pada mereka yang melebihi 80 tahun (Ignatavicius, 1995). Menurut Margolis dan Schachat, 1998, diperkirakan sedikitnya 2 juta warga Amerika menderita glukoma.

Definisi

Glukoma adalah penyakit mata yang ditandai oleh tekanan bola mata yang meningkat, ekskavasi dan atropi papil saraf optik serta kerusakan lapang pandang yang khas (Radjamin, 1984)

Patofisiologi

Tekanan intra okuli dipertahankan melalui mekanisme keseimbangan produksi dan pembuangan akuos humor. Peningkatan tekanan intraokuli disebabkan karena adanya peningkatan produksi ataupun adanya hambatan pembuangan akuos humor. Tekanan intraokuli yang tinggi selanjutnya menekan aliran darah terhadap retina dan saraf optik sehingga menyebabkan iskemia dan mati. Kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer dan bergerak ke arah fovea sentralis. Bila tidak ditangani segera glukoma berakhir dengan kebutaan (Ignatavicius, 1995).

Teori terbaru menjelaskan bahwa terjadinya kerusakan sel saraf pada retina disebabkan oleh karena tingginya asam amino glutamat yang ditemukan meningkat pada penderita glukoma. Zat ini berfungsi merangsang sel saraf mengirimkan sinyal ke otak. Pada kadar toksik zat tersebut menyebabkan overstimulasi sehingga menyebabkan kerusakan seluler.

Stadium Glukoma

Tanpa memandang penyebab kerusakannya, perubahan-perubahan pada glukosa berkembang yang dapat dilihat secara jelas melalui stadium-stadium sbb :

a. Kejadian awal (initiating events) Faktor presipitasi seperti adanya sudut yg sempit, stess emosional, penggunaan kortikosteroid yang lama atau medriatik

b. Perubahan struktur di dalam sistem pembuangan akuos humor (Structural alteration in the aqueos outflow sistem) Perubahan-perubahan jaringan dan kondisi-kondisiseperti perubahan-perubahan seluler yang disebabkan faktor-faktor yang mempengaruhi aliran akuos humor

c. Perubahan fungsi (Fungtional alteration) Kondisi-kondisi spt TIO yang meningkat dan gangguan aliran darah

d. Kerusakan saraf optik (Optic nerve damage) Atropi saraf optik yang ditandai kehilangan serabut saraf dan suplai darah

e. Kehilangan penglihatan (visual loss)

Klasifikasi dan Etiologi Glukoma

Glukoma diklasifikasikan menjadi 3 golongan, yaitu glukoma primer, sekunder dan kongenital (Radjamin dkk, 1985). Glukoma Primer Klasifikasi golongan ini didasarkan gonioskopi. Penyebabnya tidak diketahui. Ada dua macam yaitu :
a. Glukoma sudut bilik mata depan tertutup disebut juga acute congestive glucoma.
b. Glukoma sudut bilik mata depan terbuka disebut juga dengan chronic simple glucoma.

Glukoma Sekunder adalah Glukoma yang disebabkan oleh penyakit lain dalam bola mata. Penggolongan ini didasarkan atas anatomi mata.
a. Karena kelainan lensa - luksasi - pembengkaan (intumesen) - fakolitik
b. Karena kelainan uvea - uveitis - tumor
c. Karena trauma - hifema - perforasi kornea dan prolap iris
d. Karena pembedahan - bilik mata yang tidak cepat terbentuk setelah pembedahan katarak e. lain-lain - rubeosis iris - Penggunaan kortikosteroid topikal berlebihan

Glukoma kongenital Disebut juga glukoma infantil.

Glukoma absolut Keadaan akhir suatu glukoma dimana kebutaan total telah terjadi dan bola mata sering terasa nyeri.

Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan glukoma primer sudut tertutup meliputi :
1. Menurunkan TIO dengan segera

a. Hiperosmotik
tekanan osmose plasma meningkat sehingga menarik cairan dari dalam mata - Gliserin 1 – 1.5 ml/kgBB dalambentuk 50 % larutan diminum sekaligus - Bila sukar diminum karena mual/muntah, ganti dg pemberian manitol 1 – 2 gr/kgBB 20 % dalam infus dg kecepatan 60 tts/mnt. Bila TIO mencapai normal dosis ini tidak perlu dihabiskan

b. Acetazolamide
menekan akuos Langsung diberi 500 mg peroral dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam. Bila mual/muntah dapat diberikan secara IV dg dosis 500 mg

c. Beta adrenergik antagonis
menekan produksi akuos Timolol maleat 0,25 – 0,5 % tetes 2x/hari

2. Membuka sudut yang tertutup

a. Miotikum
iris tertarik dan menjauh dari tabekula sehingga sudut terbuka - pilokarpin 2 – 4 % tetes 3 – 6 jam, diberi bila sudah ada tanda-tanda penurunan TIO - tidak dianjurkan frekuensi pilokarpin yang banyak karena dapat menimbulkan krisis kolinergik

b. Acetazolamide
akuos dibilik mata belakang berkurang sehingga tekanan dibilik mata depan lebih tinggi daripada bilik mata belakang. Hal ini berakibat iris terdorong kebelakang sehingga sudut mata akan terbuka (bila belum ada perlengketan)

Memberi suportif dengan mengurangi nyeri, mual/muntah dan reaksi radang ; Pethidin untuk nyeri, antiemetik untuk muntah dan kortikosteroid topikal untuk reaksi radang

Mencegah sudut tertutup ulang Iridektomi perifer dilakukan untuk mencegah cetusan ulang yg menimbulkan blok pupil. Dengan adanya iridektomi akuos humor tetap bila mengalir meskipun terjadi blok pupil.

Mencegah sudut tertutup pada mata jiran (fellow eye) Karena adanya kesamaan anatomi, kemungkinan mata sebelah mengalami serangan glukoma cukup besar. Oleh karena itu saat serangan akut pada mata yang sakit, mata jiran diberi pilokarpin 2 % tiap 6 jam sambil disiapkan iridektomi perifer

Sedangkan untuk glukoma primer sudut terbuka adalah mencegah progresifitas papil dengan menurunkan TIO dengan cara : Pemakaian obat-obatan merupakan pilihan utama Obat-obat yg digunakan antara lain :
a. pilokarpin 1 – 2 % 4x/hr
b. Timolol maleat 0.24 – 0.5 % 2x/hr
c. Aetazolamide 3 x 250 mg
Bila TIO masih tinggi pilihan kedua adalah Aplikasi LASER pada jaring trabekula
Bila belum berhasil juga, maka dilakukan Bedah filtrasiPilihan terakhir adalah menghambat badan silier dengan Aplikasi krio atau LASER

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GLUKOMA

Pengkajian Riwayat

Glukoma lebih banyak ditemukan pada usia di atas 40 tahun terutama untuk Glukoma sudut terbuka. - Pada Glukoma sudut tertutup didapatkan gejala-gejala nyeri hebat yang mendadak pada mata dan sekitarnya. Mata sangat kabur dan melihat warna seperti pelangi (halo) disekitar lampu. Mual, muntah, berkeringat. - Pada Glukoma sudut terbuka terdapat riwayat bayangan gelap pada lapang pandang sehingga keaktifan sehari-hari mulai tergannggu. Berjalan lebih hati-hati karena sering tersenggol. Tidak ada keluhan nyeri mata dan gangguan tajam penglihatan. - Pada glukoma sekunde klien sering mengeluh nyeri dan tanda-tanda spesifik lain, tergantung penyebab dari penyakit mata. - Faktor Predisposisi al : · Penyakit keturunan · Diabetes · Hipertensi · Miopia berat · Ablasio retina · Oklusi vena retina sentral Glukoma sekunder berhubungan dengan : · trauma · riwayat penyakit okuler : iritis, gangguan neovaskuler, tumor. Penyakit degeneratif

Pemeriksaan fisik

Manifestasi klinik : Pada Glukoma sudut tertutup didapatkan Visus sangat menurun, mata merah, hiperemi konjungtiva dan silier. Dengan lampu senter yang terang akan tampak COA dangkal, pupil lebar lonjong dan tidak ada reflek terhadap cahaya, dengan tonometer Schiotz TIO sangat tinggi (hingga 45 – 75 mmHg). Dengan gonioskopi terlihat sudut mata tertutup. Pada Glukoma sudut terbuka didapatkan visus sentral baik (kecuali stadium lanjut). Tidak ada hiperemi konjungtiva dan silier. Kornea jernih, COA dalam, pupil normal. Dengan pemeriksaan funduskopi dijumpai penggaungan pada pupil (dinyatakan dengan C/D ratio). Pada pemeriksaan tonometri TIO 21 mmHg, Lapang pandang pada stadium dini dijumpai skotoma daerah superior, sedangkan stadium lanjut skotoma luas, lapang pandang sempit. Dengan pemeriksaan gonioskopi tampak sudut bilik mata depan terbuka.

Analisa Data

Kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus glukoma adalah :
1. Nyeri s.d. peningkatan TIO
2. Gangguan persepsi sensori (visual) s.d. edema kornea, penurunan tajam penglihatan, kerusakan saraf optik
3. Resiko tinggi injuri s.d penyempitan luas lapang pandang
4. Resiko terjadinya kebutaan s.d. kerusakan saraf optik sekunder terhadap peningkatan TIO
5. Takut/cemas s.d. tindakan operasi
6. Defisit perawatan diri s.d. penurunan visus
7. Defisit pengetahuan s.d. kurangnya informasi

Intervensi dan Implementasi

Berikut ini 2 contoh rencana keperawatan pada pasien katarak`.
1. Diagnosa : Nyeri s.d. peningkatan TIO

Tujuan : Klien akan menunjukkan nyeri berkurang Kriteria keberhasilan : - Klien mampu mengidentifikasi sumber-sumber nyeri - Klien mampu mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan dan menurunkan nyeri - Klien akan menyatakan penurunan nyeri yang progresif dan nyeri hilang setelah intervensi - Klien mendemonstrasikan berkurangnya ketidaknyamanan mata, klien tidak merintih, ekspresi wajah rileks - Klien menunjukkan penurunan TIO - Klien menunjukkan periode tidur yang tidak terganggu

Tindakan keperawatan :
1. Kaji jenis, intensitas dan lokasi nyeri, waspadai peningkatan TIO
2. Lakukan tindakan penghilang nyeri non invasif dan non farmakologis - Posisikan kepala 30 derajat - Latihan relaksasi - Ajari tehnik distraksi
3. Monitor tanda-tanda nyeri, ekspresi wajah, perubahan pola tidur
4. Hindarkan pasien dari ruang yang gelap
5. Kelolah obat-obatan sesuai resep dokter a.l. : - Gliserin, manitol untuk meningkatkan pembuangan akuos humor - Acetazolamid untuk menghambat produksi akuos humor - Beta adrenergik antagonis untuk menghambat produksi akuos humor - Miotik membuka sudut bilik mata depan - Pethidin untuk mengurangi nyeri

2. Diagnosa : Resiko tinggi cidera s.d penyempitan luas lapang pandang

Tujuan : klien akan dapat menghindari sidera Kreteria keberhasilan : - Klien mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan cidera - Klien akan mengungkapkan suatu keinginan untuk melakukan tindakan pengamanan sehingga mencegah cidera

Tindakan keperawatan :
1. Kaji lapang pandang kedua mata klien
2. Lakukan modifikasi lingkungan untuk memindahkan semua bahaya - Singkirkan rintangan dari tempat lalu lalang
3. Latakkan benda-benda termasuk bel pemanggil dimana klien dapat menjangkaunya
4. Letakkan alat bantu ambulasi dimana klien dapat melihat dan menjangkaunya dengan mudah

Evaluasi

Perkembangan pasien dg Konjungtivitis Go dievaluasi sesuai dg kriteria dan standar yang telah ditetapkan dalam rencana keperawatan. __________

Referensi :
Ignatavicius, Donna D., Workman, M. Linda, Mishler, Mary A., Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach, WB Saunder Company, Philadelphia, Pensylvania, 1995

Radjamin, Tamin, Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, Universitas Airlangga Press, Surabaya, 1984

Suetzer, Suzanne C. et all, Text Book of Medical – Surgical Nursing, 1998

Aminoe dkk, 1994, Pedoman Diagnosis dan terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit Mata, RS UD Dr. Soetomo, Surabaya
Baca Selengkapnya...

Jumat, 29 Oktober 2010

Asuhan Keperawatan Leukemia

A. Definisi Leukemia

Leukemia adalah gangguan keganasan yang meliputi produksi yang berlebihan dari jenis sel darah putih tertentu di dalam sumsum tulang, biasanya pada stadium imatur. Leukemia dapat bersifat akut atau kronik.

Jenis-jenis leukemia digolongkan dari jalur maturasional spesifik dimana sel-sel abnormal muncul. Leukemia yang muncul dari jalur maturasional limfoid disebut limfositik atau limfoblastik. Sedangkan yang dari jalur maturasional mieloid disebut mielositik atau mielogen. Perbedaan jenis-jenis leukemia dapat dilihat pada hal. terakhir.


B. Patofisiologi

Kelainan patologi dasar pada leukemia adalah perubahan bentuk keganasan dari stem cell atau commited precursor leukocyte cell awal, menyebabkan proliferasi abnormal dari jenis leukosit tertentu. Leukosit-leukosit imatur yang secara fungsi dan strukturnya abnormal diproduksi secara berlebihan di dalam sumsum tulang, sehingga menghentikan produksi eritrosit, pletelet dan menghentikan fungsi leukosit matur lainnya. Kondisi ini mengarah pada anemia, trombositopenia dan leukopenia dari jenis sel darah putih yang tidak terkena, meskipun jumlah SDP abnormal/imatur di dalam sirkulasi meningkat. Jika tidak dilakukan penanganan pasien biasanya mati akibat infeksi atau perdarahan.


C. Etiologi

Studi epidemologi menyatakan bahwa berbagai faktor baik genetik dan lingkungan yang berbeda mungkin terlibat di dalam terjadinya leukemia. Walaupun demikian masih sedikit yang berhasil diidentifikasi. Berikut merupakan faktor resiko terjadinya leukemia antara lain :

¨ Radiasi ion

¨ Zat-zat kimia dan obat-obatan

¨ Hipoplasia sumsum tulang

¨ Interaksi lingkungan

¨ Faktor genetik

¨ Faktor virus

¨ Faktor immunologi

¨ Faktor interaktif


D. Pengkajian

1. Riwayat

Kaji faktor resiko dan faktor penyebab. Usia penting karena kejadian leukemia meningkat seiring dengan usia. Pekerjaan dan hobi dapat mengungkapkan paparan lingkungan yang dapat meningkatkan resiko leukemia. Kaji riwayat sakit yang lalu dan pengobatan mungkin menunjukkan terdapatnya paparan radiasi ion atau pengobatan yang dapat meningkatkan resiko.

Karena leukemia berhubungan dengan perubahan fungsi imun, resiko infeksi meningkat pada klien dengan leukemia. Kaji frekwensi dan tingkat keparahan proses infeksi selama 6 bulan awal seperti influenza, pneumonia, bronkhitis dan demam yang tidak diketahui sebabnya.

Karena fungsi platelet mungkin berkurang, kaji tanda-tanda perdarahan :

· Mudah terjadi memar

· Perdarahan hidung

· Peningkatan mentruasi

· Perdarahan gusi

· Perdarahan rektum

· Hamaturia

· Perdarahan yang lama setelah laserasi atau abrasi kecil

Bila klien telah mengalami kejadian seperti di atas, tanya apakah jenis dan luasnya berdarahan tersebut nerupakan respon biasa klien terhadap injuri atau mencerminkan perubahan di dalam pola injuri.

Klien dengan anemia sering mengalami kelemahan dan fatique akibat dari anemia dan peningkatan metabolik serta tuntutan energi dari sel-sel leukemik. Tanya klien apakah mengalami :

· Sakit kepala

· Perubahan perilaku

· Peningkatan somnolen

· Penurunan kewaspadaan

· Penurunan lama perhatian

· Letargi, kelemahan otot

· Nafsu makan menurun

· Kehilangan BB

· Peningkatan fatique

Tanya klien apakah ada intoleransi aktivitas, jelaskan berapa lama klien mengalami kejadian-kejadian di atas.


2. Pengkajian Fisik

Leukemia meliputi satu atau lebih mekisme patologis di dalam sumsum yang mempengaruhi komposisi dan aktivitas berbagai komponen-konpknen darah. Karena darah mempengaruhi kesehatan dan kapasitas fungsi seluruh organ maka banyak area yang jauh dari tempat asal sel-sel malignan mungkin terpengaruh. Berikut adalah manifestasi klinis yang berhubungan dengan leukemia akut, beberapa diantaranya mungkin merupakan temuan pada leukemia kronik pada fase berat (Blash Phase).

a. Menifestasi kardiovaskuler

· Denyut jantung mungkin meningkat

· Tekanan darah menurun

· Murmur dan bising mungkin positif

· Waktu pengisian kapiler meningkat

b. Menifestasi respirasi

· Meningkatnya RR seiring dengan peningkatan derajat anemia

· Jika terdpat infeksi saluran pernafasan, terdapat tanda-tanda dan gejala pneumonia seperti batuk dan nafas pendek

· Auskultasi terdapat suara nafas abnormal

c. Menifestasi integumen

· Kulit mungkin pucat dan teraba dingin

· Pucat tampak di wajah, sekitar mulut dan dasar kuku, konjungtiva

· Petekia mungkin ditemukan terutama dibagian ekstremitas bawah

· Inspeksi adanya infeksi kulit atau area trauma yang tidak dapat sembuh

· Kaji adanya perdarahan gusi, luka atau lesi rongga mulut yang menunjukkan infeksi

d. Menifestasi gastrointestinal

· Kehilangan BB, mual dan anoreksia

· Kaji area rektum dan periksa tinja untuk mengetahui darah tersembunyi

· Bunyi usus mungkin menurun, bisa konstipasi

· Mungkin dijumpai hepatomegali dan nyeri abdomen pada infiltrasi leukemia ke visera abdomen

e. Menifestasi CNS

· Gangguan saraf kranial, sakit kepala, dan papiledema dijumpai pada infiltrasi leukemia ke meningen atau CNS

· Kejang dan coma dijumpai pada kasus lanjut

· Respon demam lebih diakibatkan oleh adanya infeksi

f. Menifestasi sumsum tulang

· Nyeri tulang atau persendihan akibat dari keterlibatan sumsum dan resorpsi tulang

· Pertumbuhan sel atau infiltrasi mungkin mengakibatkan pembesaran kelenjar limpa atau massa


3. Pengkajian psikososial

· Kecemasan muncul pada diagnosa awal leukemia

· Ketahui pemahaman klien/keluarga dan harapannya

· Klien dapat merasa bosan dan kesepian karena hospitalisasi terutama pada terapi awal

· Kaji pola koping klien


4. Pengkajian laboratorium

Pasien leukemia akut biasanya mempunyai :

· Penurunan HB dan kadar hematokrit

· Penurunan jumlah platelet

· Perubahan jumlah SDP, biasanya meningkat 20 – 100 ribu

· Pada aspirasi / biopsi, sumsum tulang penuh dengan sel-sel leukemik fase blast.

· Variabel koagulasi biasanya bnormal pada leukemia akut, penurunan kadar fibrinogen.Waktu pembekuan darah meningkat meningkat

· Analisis kromosom dari sel-sel sumsum tulang maligna diperlukan untuk :

a) membantu mendiagnosa jenis leukemia

b) memprediksi prognosis

c) menjelaskan efektifitas terapi


5. Pengkajian radiografi

Dilakukan bila dijumpai tanda khusus, misalnya adanya dispneu dilakukan foto thorak untuk mengetahui apakah leukemia berinfiltrasi ke paru.


E. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dewasa dengan leukemia mielogenous akut (AML), jenis paling sering pada leukemia dewasa adalah sbb :

1. Resiko tinggi terhadap infeksi s.d. penurunan respon imun
2. Resiko tinggi terhadap injuri s.d. trombositopenia
3. Fatique s.d. penurunan oksigenasi jaringan dan peningkatan kebutuhan energi

Pada klien dengan AML juga muncul satu atau lebih diagnosa keperawatan berikut :

4. Kerusakan integritas kulit s.d. immobilitas yang lama
5. Perubahan membran mukosa oral s.d. pengaruh kemoterapi dan pansitopenua
6. Defisit perawatan diri total s.d. debilitasi kronis dan kelemahan
7. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh s.d. anoreksia, nausea dan muntah
8. Cemas s.d. takut kematian
9. Ketidakberdayaan s.d. ketidakmampuan mengontrol progresi dari penyakit
10. Perubahan proses keluarga s.d. sakit akut dari anggota keluarga
11. Perubahan peran s.d. ketidakmampuan memenuhi peran orang tua atau peran kleuarga yang lain dan hospitalisasi yang lama
12. Defisit aktivitas diversional s.d. hospitalisasi yang lama


F. Intervensi dan Implementasi Keperawatan

Diagnosa 1 : Resiko tinggi terhadap infeksi s.d. penurunan respon imun

Tujuan : Klien akan terbebas dari resiko infeksi

Rencana Tindakan :

1. Lakukan tindakan isolasi protektif sesuai prosedur (menganjurkan kepada sesama klien untuk cuci tangan, ruang pribadi, pemakaian masker dll)
2. Sediakan peralatan bagi klien seperti pakaian, sarung tangan, sedotan dll pisahkan dengan peralatan klien lainnya
3. Batasi jumlah orang yang membantu klien di ruangnya
4. Jaga klien tetap di dalam ruangannya
5. Batasi jumlah pengunjung
6. Kurangi paparan dengan mikroorganisme dengan mengeliminasi buah-buahan dan sayuran mentah dalam diet pasien
7. Bersihkan ruangan klien sekali / hari
8. Bantu klien mandi dengan sabun antimikroba
9. Bantu klien melakukan oral hygiene tiap 4 jam
10. Cegah trauma rektum dengan pemberian laksatif
11. Ajari klien terhadap tanda-tanda infeksi dan Kaji tanda-tanda infeksi
12. Hindarkan tindakan invasif
13. Monitor jumlah SDP
14. Jika ada infeksi lakukan :

· Pemeriksaan darah vena sebelum diberikan antibiotik

· Lakukan kultur pada luka terbuka, urine dan sputum

· Kelolah antibiotik sesuai instruksi dokter


Diagnosa 2 : Resiko tinggi terhadap injuri s.d. trombositopenia

Tujuan : Klien tidak akan mengalami injuri

Rencana Tindakan :

1. Pegangi klien denganlembut
2. Gunakan sikat gigi yang lembut
3. Hindarkan injeksi IV, IM dan SC
4. Lakukan penekanan rapat tetapi lembut minimal 10 menit saat mencabut jarum
5. Berikan makanan yang masih hangat
6. Izinkan klien mencukur hanya dengan pencukur listrik
7. Pindahkan perkakas yang tidak perlu dari ruang klien
8. Hindarkan pemberian suppositoria dan pemasangan temp rektum
9. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda perdarahan tiap 4 jam seperti ptekia, memar, hemoragi sklera, perdarahan rektum atau vagina, epistaksis dll
10. Kelolah agen-agen topikal dan es, instruksikan klien menghindari obat-obat yang mengandung aspirin atau agen-agen antiinflamasi nonsteroid
11. Monitor nilai lab seperti platelet, hematokrit, waktu koagulasi
12. Berikan transfusi sesuai permintaan


Diagnosa 3 : Fatique s.d. penurunan oksigenasi jaringan dan peningkatan kebutuhan energi

Tujuan : Klien akan dapat berpatisipasi dalam perawatan diri tanpa merasa fatique yang berlebihan

Rencana Tindakan :

1. Bantu klien memilih makanan TKTP
2. Sediakan makanan kecil yang membutuhkan sedikit mengunyah
3. Kelolah pemberian transfusi sesuai permintaan
4. Bantu klien dalam aktivitas perawata diri
5. Izinkan klien istirahat saat tindakan bila klien kelelahan
6. Tunda aktivitas klien yang tidak penting
Baca Selengkapnya...

Minggu, 17 Oktober 2010

RUU Keperawatan Dibuang dari Prolegnas 2010

Fraksi PKS menyayangkan tidak masuknya RUU Keperawatan didalam Program Legislasi Nasional 2010. Demikian salah satu pendapat anggota komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Ansory Siregar saat sidang Paripurna DPR RI, Selasa (12/10).

“Sungguh aneh dan janggal bila Baleg DPR RI menerima bergitu saja usulan pimpinan Komisi IX DPR RI yang meminta bahwa RUU Keperawatan untuk diganti dengan RUU Tenaga Medis,” ungkap Ansory Siregar.

Ansory memaparkan ada kejanggalan pada proses pengajuan, Kejanggalan pertama, Berdasarkan surat pimpinan Komisi IX ke Badan Legislatif dengan nomor surat: 07/KOM.IX/MP.I/VIII/2010 tanggal 30 agustus 2010, yang isinya sebagai berikut: berdasar hasil keputusan rapat komisi IX DPR RI tgl 25 agustus 2010, telah disepakati RUU tentang Tenaga kesehatan dan RUU tentang perubahan atas UU no.39 thn 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri akan dibahas pada tahun sidang 2010 – 2011, dan menjadi RUU prioritas pada tahun 2010.

”Kenapa RUU Keperawatan tidak masuk dalam Prolegnas 2010? Padahal RUU keperawatan sejak 2009 & 2010 sudah menjadi prioritas Prolegnas dan belum dibahas oleh DPR RI dan menjadi hutang DPR RI pada masyarakat. Kenapa tiba-tiba RUU Tentang Tenaga Kesehatan (nakes) menjadi begitu penting?” tanya Ansory.

Kejanggalan kedua, surat balasan dari Baleg DPR RI bernomor 108/Baleg/DPR RI/IX/2010, tanggal 23 September 2010, Baleg menyetujui RUU Tenaga Kesehatan menjadi prioritas prolegnas 2010 dengan menggeser RUU keperawatan. Namun di surat yang sama, Baleg meminta RUU perubahan atas UU No.39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri menjadi garapan Baleg DPR dan bukan menjadi garapan komisi IX DPR RI. ”Anda bayangkan sungguh aneh sekali mereka-mereka ini,” ungkap ansory.

Menurut Anggota DPR asal Sumut II ini, Baleg dan Pimpinan Komisi IX memperebutkan RUU tentang perubahan atas UU No. 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI diluar negeri.

Kejanggalan ketiga, lanjut Ansory, Baleg bersama Menteri Hukum dan HAM pada 29 september 2010 telah memutuskan penggantian 3 RUU dalam daftar Program legislasi nasional RUU prioritas tahun 2010. Pada saat itulah, RUU keperawatan yang masuk dalam No urut 18 dalam Prolegnas 2010 di ”Gusur”oleh RUU Tenaga Kesehatan.

”Tindakan Baleg kurang tepat dan tidak dapat dibenarkan, ada indikasi permainan dibelakang oleh oknum. Jelas ini melecehkan hak inisiatif anggota DPR RI, karena RUU keperawatan merupakan RUU hak inisiatif anggota DPR RI sejak periode yang lalu. Atas dasar apa Baleg bersikap demikian? Kenapa tidak terlebih dahulu dibahas dengan anggota komisi IX?” ungkap ansory dengan geram.
”Melalui rapat paripurna DPR RI, saya ungkap hal ini ke pimpinan dan meminta pimpinan untuk tidak mensahkan usulan Baleg tersebut, demi keadilan bagi masyarakat luas,” pungkas Ansory.

Sumber : DPR RI
Baca Selengkapnya...