Definisi
Gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure/CHF) adalah kondisi dimana fungsi jantung sebagai pemompa tidak adekuat untuk mendistribusikan darah yang banyak mengandung oksigen ke seluruh tubuh. Dikenal juga dengan istilah dekompensasi kordis.
Penyebab
Gagal jantung kongestif dapat disebabkan oleh: 1) penyakit-penyakit yang melemahkan otot jantung, 2) penyakit-penyakit yang kekakuan otot-otot jantung, 3) penyakit-penyakit yang meningkatkan kebutuhan jaringan tubuh akan oksigen diluar batas kemampuan jantung.
Patofisiologi
Jantung yang normal dapat berespons terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme yang menggunakan mekanisme kompensasi yang bervariasi untuk mempertahankan kardiak output. Ini mungkin meliputi: respons sistem syaraf simpatetik terhadap baro reseptor atau kemoreseptor, pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuikan terhadap peningkatan volume, vasokonstyrinksi arteri renal dan aktivasi sistem renin angiotensin serta respon terhadap serum-serum sodium dan regulasi ADH dari reabsorbsi cairan.
Kegagalan mekanisme kompensasi di percepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang di pompakan untuk menentang peningkatan resisitensi vaskuler oleh pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendek waktu pengisian ventrikel dan arteri koronaria, menurunnya kardiak ouput menyebabkan berkurangnya oksigenasi pada miokard.
Peningkatan tekanan dinding pembuluh darah akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tunutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertropi) terutama pada jantung iskemik atau kerusakan, yang menyebabkan kegagalan mekanisme pemompaan.
Klasifikasi
Menurut NYHA (New York Heart Association), CHF diklasifikasikan dalam 4 tingkatan yaitu:
Class I : Timbul gejala bila melakukan aktivitas berlebihan
Class II : Timbul gejala saat aktivitas biasa
Class III : Timbul gejala hanya dengan melakukan aktivitas minimal
Class IIIa : Tidak ada dispnea saat istirahat
Class IIIb : Timbul dispnea saat istirahat
Class IV : Gejala timbul meskipun dalam kondisi istirahat
Pengkajian Keperawatan
Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas).
Sirkulasi
Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus. Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia. Suara jantung , suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi. Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia). Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal. Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung. Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.
Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.Menghapus Format dari bidang pilihan
Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.
Hygiene perseorangan
Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan
Neorusensori
Nyeri kepala yang hebat, Changes mentation.
Kenyamanan
Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin. Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan wajah. Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran.
Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.
Interaksi sosial
Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.
Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.
Studi diagnostik
ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dari iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis.
Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia.
Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan.
Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis atau akut.
Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikuler.
Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
Exercise stress test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas.
Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan
Diagnosa 1: Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penuruna tekanan dan cara berelaksasi.
Rencana:
1. Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
2. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
3. Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
4. Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman.
5. Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik relaksasi.
6. Kolaborasi dalam:
- Pemberian oksigen.
- Obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesic)
7. Ukur tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan pengobatan dengan narkosa.
Diagnosa 2: Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
Tujuan: setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Rencana:
1. Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
2. Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
3. Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden” pada saat buang air besar.
4. Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
5. Tunjukan pada pasien tentang tanda-tanda fisiki bahwa aktivitas melebihi batas.
Diagnosa 3: Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan: tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.
Rencana:
1. Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan).
2. Kaji kualitas nadi.
3. Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
4. Auskultasi suara nafas.
5. Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
6. Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
7. Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti
disritmia.
Diagnosa 4: Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
Tujuan: selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
Rencana:
1. Kaji adanya perubahan kesadaran.
2. Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
3. Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
4. Kaji respirasi (irama, kedalam dan usaha pernafasan).
5. Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
6. Monitor intake dan out put.
7. Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.
Diagnosa 5: Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan: tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
Rencana:
1. Auskultasi suar nafas (kaji adanya crackless).
2. Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
3. Ukur intake dan output (balance cairan).
4. Kaji berat badan setiap hari.
5. Najurkan pada pasien untuk mengkonsumsi total cairan maksimal 2000 cc/24 jam.
6. Sajikan makan dengan diet rendah garam.
7. Kolaborasi dalam pemberian deuritika.
Baca Selengkapnya...
Senin, 29 November 2010
Asuhan Keperawatan Gagal Jantung Kongestif
Senin, 22 November 2010
Pengumunan 4
Bagi mahasiswa yang praktek di RSUP Sanglah Bali mulai hari senin, 22 Nopember 2010 diberitahukan bahwa pembimbing yang akan datang mendampingi pembukaan adalah Bpk. Supono, S.Kep., Ns, M.Kep., Sp.MB. Bagi kelompok yang belum menjalani Ujian (PPK) di departemen KMB diusahakan agar menjalani ujian PK PKB II dengan pembimbing berikutnya yaitu Bpk. Yunus dari Prodi Blitar. Pembimbin akan datang kira-kira hari sabtu tanggal 4 Desember 2010 untuk menguji selanjutnya hari senin, 6 Desember 2010 akan menyerahkan kelompok selanjutnya yang akan praktek. Demikian pengumuman ini dibuat, bila ada perubahan akan segera dilakukan pengumuman berikutnya.
Perlu kami tambahkan bahwa selama menjalani praktek di RSUP Sanglah Bali pembimbing adalah orang ruangan.
Baca Selengkapnya...
Selasa, 16 November 2010
Asuhan Keperawatan Pasien Low Back Pain
A. Pendahuluan
Diperkirakan 80% populasi akan mengalami nyeri punggung bawah (Low Back Pain). Keterbatasan akibat masalah ini cukup berat. Secara ekonomis, penderita kehilangan produktivitasnya, mencapai milyaran rupiah. Jumlah kunjungan ke dokter menempati urutan ke dua setelah masalah pernafasan.
B. Etiologi
Penyebab nyeri punggung yang berhubungan dengan sistem muskuloskeletal antara lain :
1. Regangan lumbosakral akut
2. Ketidakstabilan ligamen lumbosakral dan kelemahan otot
3. Osteoartritis tulang belakang
4. Masalah diskus intervertebralis
5. Ketidaksamaan panjang tungkai
6. Pada orang lansia bisa disebabkan oleh fraktur osteoporosis atau metastase tulang
C. Pengkajian
Pasien biasanya mengeluh nyeri punggung akut atau kronis dan kelemahan. Kaji awal, lokasi nyeri, sifat nyeri, dan penyebarannya (konsep PQRST). Nyeri masalah muskuloskeletal biasanya bertambah dengan aktivitas.
Evaluasi cara berjalan klien, mobilitas tulang belakang, panjang tungkai, kekuatan motoris, dan persepsi sensoris. Peninggian tungkai dalam keadaan lurus yang mengakibatkan nyeri manandakan iritasi serabut saraf.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan spasme otot paravertebralis dan nyeri tekan pada otot paraspinal, disertai hilangnya lengkungan lordotik lumbal yang normal dan mungkin ada deformitas tulang belakang. Adanya nyeri punggung akan menyebabkan keterbatasan gerak yang pada gilirannya menyebabkan gangguan dalam aktivitas klien. Bila pasien dalam keadaan telungkup, otot paraspinal akan relaksasi, dan deformitas tulang yang diakibatkan oleh spasme akan menghilang.
Kaji adanya kecemasan dan stress, karena nyeri punggung bisa merupakan manifestasi depresi atau reaksi terhadap stressor lingkungan dan kehidupan. Kaji juga adanya obesitas karena dapat menyebabkan n yeri punggung bawah.
D. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan utama klien meliputi :
1. Nyeri yang masalah muskuloskeletal
2. Kerusakan mobilitas fisik s.d. nyeri, spasme oto dan berkurangnya kelenturan
3. Kurang pengetahuan
4. Perubahan kinerja peran s.d. gangguan mobilitas atau nyeri kronik
5. Gangguan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh s.d obesitas
E. Intervensi dan Implementasi
Sasaran uatama klien meliputi :
1. Hilangnya nyeri
2. Perbaikan mobilitas fisik
3. Penggunaan tehnik mekanika tubuh melindungi tubuh
4. Perbaikan kinerja psien
5. Penurunan BB
Intervensi Keperawatan
1. Meredakan Nyeri
a. Dorong klien mematuhi tirah baringdan mengubah posisi yang ditentukan untuk memperbaiki fleksi lumbal
b. Ajari klien mengontrol dan menyesuaikan nyeri yang dirasakan melalui terapi tingkah laku untuk mengurangi ketegangan otot dan psikologis, spt pernafasan diafragma, relaksasi, mengalihkan perhatian klien pada aktivitas lain (mis. Membaca, bercakap-cakap, menonton TV), imajinasi terbimbing.
c. Masase jaringan lunak dengan lembut untuk mengurangi spasme otot, memperbaiki peredaran darah, mengurangi pembendungan dan nyeri
d. Berikan obat-oabt analgetik, kaji respon klien setiap pemberian obat-obatan.
e. Rujuk kepada fisioterapis untuk terapi TENS. Secara umum alat ini digunakan selama 1-2 bulan.
2. Memperbaiki mobilitas Fisik
a. Pantau mobilitas fisik klien, kaji bagaimana klien bergerak dan berdiri
b. Bantu klien melakukan perubahan posisi dengan perlahan
c. Ajari klien turun dari tempat tidurpada posisi yang menimbulkan nyeri minimal.
d. Hindarkan terjadinya gerakan memutar dan melenggok.
e. Dorong pasien untuk berganti-ganti aktivitas berbaring, duduk, berdiri dan berjalan dan sebaliknya dalam waktu yang lama
f. Rencanakan periode istirahat berbaring di TT beberapa kli sehari untuk meminimalkan stress pada punggung
g. Dorong klien mematuhi program latihan sesuai dengan yang telah ditentukan (dua kali sehari). Tingkatkan secara bertahap
h. Berikan kesempatan klien untuk melakukan aktivitas rekreasi untuk mengganti latihan khusus tetapi jangan sampai menyebabkan tegangan, puntiran atau ketidaknyamanan punggung.
3. Meningkatkan mekanika tubuh yang tepat
a. Ajari klien berdiri, duduk, berbaring dan mengangkat barang dengan benar
b. Hindarkan klien mengenakan sepatu bertumit tinggi
c. Hindarkan klien berdiri yang terlalu lama, beritahu klien agar menjaga postur tubuh yang benar saat berdiri untuk menghindari lordosis lumbal
d. Ajari klien berjongkok dengan benar, lutut dan pinggul harus menekuk da lutut harus sama atau lebih tinggi dari pinggul untuk meminimalkan lordosis
e. Tidurkan klien dalam posisi miringdengan lutut dan pinggul ditekuk atau telentang dengan lutut dan pinggul ditekuk, atau telentang dg lutut disangga dalam dalam posisi fleksi. Hindarkan tidur telentang
f. Instruksikan klien cara mengangkat benda yang benar, yaitu menggunakan otot kuadrisep yang kuat dan otot punggung yang minimal.
g. Anjurkan klien menggunakan korset bila perlu saat mengangkat
h. Hindarkan klien mengangkat barang 1/3 berat badannya tanpa bantuan
4. Memperbaiki kinerja peran
a. Peran klien berubah sejak awitan terjadinya nyeri punggung. Bantu klien menghadapi stressor spesifik dan belajar bagaimana mengatasi stress. Sekali pasien berhasil akan mengambangkan percaya diri dalam kemampuannya mengatasi situasi stress yang lain.
b. Bantu klien dan keluarga terhadap pemahaman ketergantungan, bantu klien mengidentifikasi terjadinya ketergantungan
c. Bantu klien untuk kembali ke kehidupan produktif penuh
5. Mengubah nurisi untuk penurunan BB
Prinsipnya : diet sehingga BB menurun karena obesitas dapat menyebabkan ketegangan punggung.
F. Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1. Mengalami peredaan nyeri
a. Istirahat dengan nyaman
b. Mengubah posisi dengan nyaman
c. Mengalami peredaan nyeri melalui penggunaan modalitas fisik, tehnik psikologis dan meditasi
d. Menghindari ketergantungan obat
2. Menunjuknya kembalinya mobilitas fisik
a.Kembali aktivitas secara bertahap
b.Menghindari nyeri yang menyebabkan ketidaknyamanan dan spasme otot
c.Merencanakan istirahat baring sepanjang hari
3. Menunjukkan mekanika tubuh yang memelihara punggung
a. Perbaikan postur
b. Mengganti posisi sendiri untuk meminimalkan stress ada punggung
c. Memperlihatkan penggunaan mekanika tubuh yang baik
d. Berpartisipasi dalam program latihan
4. Kembali ke TJ yang berhubungan dengan peran
a. Menggunakan tehnik menghadapi masalah untuk menyesuaikan diri dengan situasi tsress
b. Memperlihatkan berkurangnya ketergantungan kepada orang lain untuk perawatan diri
c. Kembali ke pekerjaan bila nyeri punggung bawah telah sembuh
d. Kembali ke gaya hisup produktif penuh
5. Mencapai BB yang diinginkan
a. Mengidentifikasi perlunya penurunan BB
b. Berpartisipasi dalam pengembangan rencana penurunan BB
c. Setia dengan proram penurunan BB
Baca Selengkapnya...